kongres anak jawa timur

Kongres Anak Jawa Timur

5
(2)

Daftar Isi

LAPORAN KEGIATAN

KONGRES ANAK JATIM 2001

DALAM RANGKA PERINGATAN HARI ANAK NASIONAL 2001

Taman Budaya Cak Durasim, Surabaya, 19 – 24 Juli 2001

Eliana – Anis – Wawan (Yayasan Wahana)

LATAR BELAKANG

Selama ini pengangkatan isu anak banyak berdasar pada laporan, fakta dan data yang diungkapkan oleh orang dewasa (pers, LSM, ormas dll). Fakta-fakta itupun seakan belum mampu menguak lebih dalam kondisi real yang terjadi pada anak, ada prasangka dramatisir atas fakta mengikuti pemunculan isu tersebut. Maka untuk meminimalisir kepentingan yang ada dalam rangka mengangkat isu anak, saatnyalah anak sendiri untuk mampu menguak fakta yang ada. Merekalah yang akan menggali pengalaman mereka sendiri dan memunculkan kondisi yang sebenarnya yang mereka alami : perspektif anak-anak.

Perspektif anak tentunya memiliki nuansa yang banyak berbeda dengan orang dewasa. Namun hal itu tidak harus menyurutkan partisipasi mereka untuk menyuarakan sendiri persoalan mereka. Perspektif anak dalam arti dibahasakan dan dituturkan menurut kapasitas dan pengetahuan anak yang mengungkapkan. Banyak upaya untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan anak untuk mengartikulasikan persoalan,  salah satunya adalah melalui media seni.

Media seni yang dapat dipakai adalah media menggambar bersama dan pertunjukan seni sebagai penguat isi masalah melalui visualisasi kasus. Media ini dipilih karena ada beberapa hal yang melatarbelakangi yakni:

  • Anak-anak memiliki kecenderungan tertutup dalam mengungkapkan kasus melalui bahasa verbal (budaya patriarkhi yang kuat menyebabkan anak tidak mampu mengungkapkan melalui cara ini). Media gambar memberi kesempatan anak untuk lebih mudah mengungkapkan secara mudah kasus-kasus melalui gambar dan dilakukan secara berkelompok. Masing-masing anak dalam satu kelompok saling mengisi dan melengkapi gambar yang akan menggambarkan suatu kondisi yang menurut anak itu penting untuk diceritakan.
  • Melalui media seni pula, tidak menempatkan anak sebagai objek kajian, namun anak menempatkan diri sebagai subjek yang mengkaji masalah tanpa merasa tertekan dan berat. Karena melalui seni tentunya upaya pengungkapkan berjalan lebih mudah, menyenangkan dan bersuasana riang.
  • Seni yang  dalam hal ini adalah bagian dari media untuk anak melakukan pembebasan diri dari kekangan rasa takut dan rasa malu, untuk itulah melalui media  seni ini anak tidak hanya mampu mengungkapkan dan mengidentifikasi masalah namun juga lebih luas memberikan tempat untuk anak mengekspresikannya dalam bentuk pertunjukan seni (suasana riang dan ringan). Karena konsep utama bekerja bersama anak adalah bekerja dalam kegembiraan.
  • Media komunikasi antar anak.
  • Berkumpulnya anak-anak se-Jawa Timur ini diharapkan mampu menghidupkan hubungan/komunikasi antar mereka dengan gaya, model  dan dialek yang mereka pahami. Untuk itu perlu waktu khusus bagi mereka untuk berkumpul dan saling menceritakan kondisi mereka masing-masing agar terjalin sambung rasa dan kebersamaan yang pada akhirnya mereka sendiri yang akan merasakan pentingnya melakukan komunikasi antara anak. Bentuk komunikasi nantinya diharapkan akan terus berlangsung pasca konggres anak berlangsung, maka sebagai bagian pelaksanaan Hak Anak Ps. 12 (1) dan Ps. 15 (1) agar mereka bisa membentuk organisasi anak secara legal diakui keberadaannya oleh negara.
  • Mendorong partisipasi dan kreatifitas anak dalam mengekspresikan diri
  • Sebagai bagian dalam acara pertemuan anak (inti utama kongres anak) yakni workshop media seni (gambar dan pertunjukan) selain hasilnya sebagai upaya pengidentifikasian kasus anak dalam perspektif anak, namun di sisi lain anak-anak akan merasa dihargai apabila pertunjukan hasil kerja mereka dalam workshop tersebut diadakan di luar acara pertemuan itu. Pertunjukan yang dikemas secara menarik diharapkan akan menyedot perhatian publik Surabaya ini nantinya didukung pula oleh anak-anak di luar peserta Konggres (dari LSM-LSM Surabaya dan  beberapa sekolah serta Pramuka di Surabaya, maupun kelompok seni di Surabaya).
  • Upaya advokasi oleh anak kepada negara.
  • Hasil kongres anak menghasilkan serangkaian pernyataan anak bagaimana negara menyikapi kondisi yang mereka identifikasi sebagai masalah/isu yang mereka hadapi. Serangkaian pernyataan ini adalah bagian dari upaya advokasi yang dilakukan anak sendiri kepada negara, hanya saja dari pertemuan itu forum anak ini akan memilih sendiri bagaimana cara penyampaian sikap mereka kepada negara. Disasarkan kepada masyarakat terlebih dahulu, atau langsung kepada pemerintah darah atau dilakukan kedua-duanya.

Mengingat peserta kongres dari wakil-wakil anak beberapa Kabupaten/ Kota  di Jawa Timur, maka Kongres ini sendiri merupakan:

  • Pertemuan antar anak di Jawa Timur
  • Puncak forum anak dari forum-forum anak di masing-masing wilayah
  • Forum anak tertinggi di Jawa Timur
  • Forum yang merumuskan isu-isu anak di Jawa Timur yang akan di desakkan kepada pemerintah/ pemerintah daerah sebagai upaya Advokasi

TUJUAN

  • Mengangkat isu-isu anak menurut perspektif anak.
  • Media komunikasi antar anak sebagai perwujudan pasal. 12 (1) dan  15 (1)  KHA.
  • Media advokasi kasus-kasus anak oleh anak.

OUTPUT

  • Teridentifikasikannya permasalahan anak-anak Jawa Timur menurut perspektif anak sebagai masukan kepada seluruh stakeholder baik di tingkat jawa Timur maupun kota/kabupaten (daerah); dan sebagai masukan kepada Kongres Anak Indonesia ( forum nasional ).
  • Tersusunnya suatu format untuk penyelesaian masalah anak-anak di Jawa Timur dengan mengikutsertakan anak-anak ( partisipatif ).
  • Terbentuknya kader peer group untuk memfasilitasi kegiatan forum anak di daerah                             ( Kota/ Kabupaten ).

PESERTA

Peserta Kongres Anak Jatim ini adalah anak-anak binaan LSM-LSM di Jawa Timur, dengan kriteria :

  • Anak Berusia 12 – 17 tahun
  • Bisa baca tulis
  • Mewakili kelompok/komunitas
  • Mampu mengkomunikasikan isu dengan baik
  • Maksimal 3 anak
  • Mempertimbangkan kesetaraan gender
  • Bersedia berbagi hasil kongres kepada kelompok/komunitas masing-masing

PELAKSANA

Pelaksana kegiatan Kongres Anak Jawa Timur ini adalah Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat di Jawa Timur sebagai Panitia Bersama, dengan susunan kepanitiaan sebagaimana terlampir  ( Lampiran 01 ).

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

Kegiatan Kongres Anak Jawa Timur ini diselenggarakan pada tanggal 19 – 23 Juli 2001, bertempat di Taman Budaya Cak Durasim, Jl. Gentengkali, Surabaya.

METODE  DAN MATERI

Kongres ini menggunakan metode khusus yang mampu menggali persoalan anak berdasarkan perspektif anak. Peran orang dewasa / pendamping ( dari LSM ) dalam metode ini hanyalah sebagai “pengarah” atau “penerjemah” untuk menjembatani maksud ungkapan verbal anak-anak ke dalam bahasa umum (bahasa orang dewasa).

Secara keseluruhan, untuk mencapai hasil yang diharapkan sebagimana tujuan dan output diatas, metode yang digunakan dapat dijabarkan melalui kegiatan-kegiatan :

  • Refleksi bersama anak-anak; belajar mendengarkan dan memahami suara anak.
  • Workshop anak-anak dengan menggunakan media ekspresif berupa gambar dan tulisan melalui proses bertanya, mendengarkan, mengekspresikan, menganalisa dan merencanakan.
  • Workshop orang dewasa (pendamping anak) yang dilakukan secara paralel dan terpisah dengan anak-anak, untuk merumuskan peran dan tanggungjawab orang dewasa.
  • Menyusun komitmen bersama bersama antara anak-anak dan orang dewasa.
  • Pertemuan antar anak (Forum Anak)

 Materi

NoMateriOutput MateriKebutuhan
 Workshop Gambar (Gambar Kelompok)Tergalinya kasus-kasus lokalAda Media gambar yang bisa digunakan untuk mengkomunikasikanFasilitator yang memahami metode gambar untuk penggalian masalah, dibantu oleh pendamping anak
 Presentasi GambarMuncul isu-isu lokalPembagian kelompok menurut isuMedia presentasi & diskusiFasilitator
 Workshop Seni PertunjukanMedia visualisasi untuk mempertajam isuDiskusi kelompok menurut isuFasilitator masing-masing kelompok yang memahami seni pertunjukan sebagai penajaman & visualisasi isuMedia seni pertunjukan
 Forum AnakRekomendasi dari perumusan isuMenentukan bentuk pengangkatan isuPembentukan organisasi/jaringan antar anakDiskusi Pleno Fasilitator :Perumusan & pengangkatan isuPembentukan organisasi/jaringan antar anak  

HASIL KONGRES ANAK JAWA TIMUR

Melalui proses dan kegiatan seperti diatas, maka dihasilkan :

  • Daftar suara anak secara individu dan kolektif yang layak untuk ditindaklanjuti.
  • Rencana tindak lanjut dari, oleh dan untuk anak terhadap suara mereka sendiri.
  • Menghasilkan kesepakatan bersama untuk mengarusutamakan hak anak.

Hasil-hasil kongres berdasarkan rekaman langsung kejadian selama berproses adalah sebagai berikut :

HARI I : JUMAT, 20 JULI 2001 : 09.31 WIB
Perkenalan Peserta

Fasilitator : Mbak Yuli, Yay. ALIT, Surabaya.

Fasilitator menawarkan kepada peserta, metode perkenalan yang paling sesuai untuk dan disukai anak-anak, kemudian peserta merespons, sebuah metode perkenalan :

  • Mbak Nur, LPA Tulungagung,

Peserta memperkenalkan diri, pekerjaan dan aktivitas hariannya, kemudian bergiliran dengan peserta lainnya, dengan cara melemparkan bola koran. Peserta yang terkena lemparan bola, langsung memperkenalkan diri, demikian seterusnya bergiliran.

  • Peserta setuju. Untuk menghangatkan dan lebih mencairkan suasana, perkenalan diiringi musik, dan pakai bergoyang, peserta yang lain mengikuti.

Satu persatu peserta mulai memperkenalkan diri, sambil bergaya, lempar bola, peserta yang terkena, mulai memperkenalkan diri, nama, asal, pekerjaan. Peserta lain goyang-goyang. Suasana benar-benar akrab, tanpa perbedaan, polos, membawakan ciri khas anak-anak, serta khas daerah masing-masing, namun terasa benar kebersamaannya.

Bahkan saking beraninya, salah seorang anak ( perempuan ) dari Surabaya memperkenalkan, “Nama saya, Sunarsih, pekerjaan saya, pengedar narkoba…”.

“Nama saya, Fenny, dari Surabaya, pekerjaan saya, masih sekolah, masih single…

“Hallo, nama saya Ahmad, pekerjaan ngamen, dari Lamongan…” Peserta lain nyeletuk, “Ngamen nang ndi Le…”

Gantian, sekarang perkenalan pendamping.

Sebelum perkenalan, salah seorang pendamping, mengajak refreshing, dengan menggoyang-goyang tangan; yang lantas diprotes oleh salah seorang anak  ( perempuan ). “Kasep mas, wis kesel”.

Giliran peserta pendamping yang bertubuh tambun, dari Plan International, sebelum memperkenalkan diri, langsung salah seorang anak nyeletuk, “He, rek, wong meteng”. “Mas, sehari makan berapa piring?” “Satu piring, tambahnya satu karung” jawab sang pendamping tidak kalah sablengnya dengan si bocah.

Giliran pendamping dari FPA Probolinggo, “Salam sayang semua… yuk tepuk KHA dulu…hak hiduuup, plok-plok plok.. tumbuh kembang, plok-plok plok.. perlindungan, plok-plok plok..  partisipasi… plok-plok plok.. Saya seorang pecinta anak-anak, saya datang pada acara untuk anak ini selain bersama anak-anak dampingan, juga membawa anak-anak saya serta suami saya yang sekarang mendadak jadi relawan notulen. Nama saya Anis. Kami memang keluarga LSM, juga memang asli “anak jalanan”, sehari-harinya di jalan terus.

Dilanjutkan dengan seorang pendamping dari Surabaya melanjutkan game hapalan KHA dengan menunjuk satu persatu anak untuk masing-masing menyebutkan satu kata dari unsur KHA. “…Hak hidup.. tumbuh kembang, perlindungan… partisi..sapi, pasti ini sapi, lantas dibetulkan, partisipasi. Anak-anak memang agak kesulitan mengucap ‘partisipasi’ ini.

Game dilanjutkan dengan acara berpindah tempat sesuai dengan kata unsur KHA yang diucapkan oleh masing-masing anak, pada saat sang pendamping yang menjadi fasilitator mengucap salah satu kata unsur KHA. Demikian seterusnya, peran pendamping digantikan oleh anak-anak secara bergantian (acak). Suasana kian meriah oleh anak-anak yang berebut tempat duduk. Nama saya Rikman.

Pendamping dari Surabaya berambut gondrong memperkenalkan, “Haloo, nama saya Gerandong…”

Giliran, dari ASSA (Aliansi Seni Surabaya) kakak pendamping Si Cantik dari Jembatan Roboh. “Haloo, nama saya Ida, saya seorang penyiar dan penolong anak. Anak-anak yang pengen ditolong, silakan hubungi saya kapan saja”. Salah seorang anak nyeletuk, “Bokonge rek…”.

Acara dilanjutkan dengan pembagian kelompok. Anak-anak dikelompokkan berdasarkan unsur KHA.

Kelompok I : Kelompok “Hak Hidup”

Kelompok II : Kelompok “Hak  Tumbuh Kembang”

Kelompok III : Kelompok “Hak Perlindungan”

Kelompok IV : Kelompok “Hak Partisipasi”

Masing-masing kelompok meneriakkan yel-yel khas nama kelompoknya.

“Anak-anak harus hidup…, tumbuh dan berkembang, mendapatkan perlindungan, didengar suaranya..!!

Semua peserta (anak dan pendamping) bersama-sama menyanyikan yel-yel tersebut berkali-kali.

Acara perkenalan selesai pukul 10.40 WIB.

Penjelasan Tujuan Kongres; pukul 10.40 WIB

Fasilitator : Mbak Yuli, Yay. ALIT, Surabaya.

Fasilitator menawarkan kepada peserta, apakah jadwal yang diajukan disetujui atau tidak, sambil mencari metode penyampaian yang sesuai berikut kesepakatan-kesepakatan dalam tiap-tiap acara.

Dari hasil penjaringan pendapat anak-anak, penyampaian materi didasarkan pada kesepakatan berikut :

  • Acara dilalui satu persatu.
  • “Sersan” : Serius tapi santai.
  • Tidak ada diskriminasi dan berbau SARA.
  • Saling tukar pendapat, dan menghargai pendapat orang lain tanpa ada kekerasan.
  • Tidak boleh ngentut dan merokok di ruangan.
  • Tepat waktu.
  • Semua boleh bersuara (berpendapat)
  • Yang melanggar kesepakatan, diberi sanksi berdasarkan kesepakatan bersama, asal tidak dengan kekerasan dan penghinaan.

Anak-anak diajak berproses menyampaikan pendapat dengan semangat dan mengacu pada KHA. Dan peserta yang berusia diatas 18 tahun, bukan anak-anak lagi, (pendamping), karenanya tidak boleh ikut. Anak-anak dimintai pendapat mengenai peran kakak-kakak pendamping.

Peran pendamping :

  • Pendamping tidak boleh ikut kongres.
  • Memberikan arahan pada seluruh anak.
  • Memberikan informasi untuk seluruh anak.

Fasilitator meminta peserta menceritakan pengalaman ikut kongres anak pada tahun lalu, bagi yang pernah mengikuti.

  • Anak-anak memang harus mendapatkan hak-haknya.
  • Anak-anak masih tetap mendapat perlakuan kasar dan mendapatkan kekerasan.

Dari hasil brainstorming dari anak-anak, diperoleh pengertian dari pesertabahwa tujuan kongres anak ini adalah :

  1. Menumbuhkan kesadaran  pada anak-anak atas hak-haknya.
  2. Menumbuhkan keinginan anak-anak untuk mengubah nasib.
  3. Menyadari atas hak-haknya.

Pembagian Kelompok

Anak-anak dikelompokkan berdasarkan daerahnya, dan diminta untuk mendiskusikan hal-hal yang paling tidak mengenakkan bagi anak-anak di daerah masing-masing.

Peserta dibagi menjadi 9 kelompok berdasarkan daerah asal :

Kelompok 1   : Surabaya; dibagi lagi menjadi 4 kelompok kecil karena pesertanya terlalu banyak.

Kelompok 2   : Jember ( Pendamping: Surabaya )

Kelompok 3   : Probolinggo

Kelompok 4   : Tulungagung

Kelompok 5   : Bondowoso

Kelompok 6   : Kediri ( Pendamping : Surabaya )

Kelompok 7   : Malang

Kelompok 8   : Lamongan

Kelompok 9   : Pacitan

Masing-masing kelompok diminta untuk mengidentifikasikan hal-hal yang tidak mengenakkan bagi anak-anak di kelompok ( daerah ) nya masing-masing, dengan cara menuliskan hasil diskusi kelompoknya di atas kertas plano. Diskusi kelompok dimulai pukul 11.24 WIB.

Diskusi kelompok berakhir pukul 12.00 WIB, kemudian break untuk Shalat Jumat bagi yang melaksanakan, makan siang, istirahat.

Presentasi Hasil Diskusi Kelompok ; pukul 14.00 WIB

Fasilitator : Mbak Yuli, Yay. ALIT, Surabaya.

Kelompok 1 : Surabaya; Ida, Plan International :

  1. Pelecehan seksual.
  2. Anak-anak di sekitar sekolah, suka ngeledek.

Dilanjutkan oleh anak lainnya yang kebetulan adalah anak yang dilacurkan. Dia mengaku sering dikompas aparat. Demikian penuturannya. “Nama saya Tatik.  Aku sering diuber-uber aparat. Dijaluki dhuwik, lek gak dike’i dicakup, yo terus diencuk akhire” ( Saya sering dikejar-kejar aparat, dimintai uang, kalau tidak diberi, diancam mau dicakup. Ya sudah, akhirnya saya disetubuhi ).

Peserta lain dari kelompok 1 menambahi :

  1. Lingkungan sekitar menganggap anak jalanan seperti sampah.
  2. Perbedaan perlakuan oleh guru terhadap anak jalanan dibanding terhadap anak pada umumnya.
  3. Perbedaan perlakuan oleh anak-anak orang kaya kepada anak-anak miskin. Menjadikan anak-anak seperti kami ini menjadi semakin minder, dan itu melangar hak-hak anak. Demikian pengakuan slah seorang anak jalanan.

Pertanyaan :

Shandi dari Walsama Surabaya : Apa perbedaan anak jalanan dengan PSK ?

Fasilitator meminta salah seorang anak jalanan yang dilacurkan, Renny. Demikian pengakuan Renny; “Selama saya kerja di jalan, … Saya tidak bisa cerita, nanti dikira bohong, ayok ikut aku saja, biar tahu sendiri.”

Kemudian disambung kawannya:

“Tiap hari polisi selalu minta uang ke germo. Dan germonya memotong uang Rp.2000,- pada tiap anak-anak untuk setoran ke polisi. Kalau gak setor dhuwit, polisi ( seperti di Embong Malang, kawasan anak-anak jalanan ) main cakup saja. Daripada kenak gitu, lebih baik tak kasik ae, engko’ gentenan karo konco. Wah nek ngono polisi lak gak onok bedane karo preman. Kaluk ndak percaya, ayuk melok aku ae.”               ( Daripada kena perkara sama polisi, lebih baik saya layani dia, nanti gantian dengan teman. Wah, kalau begini terus, polisi tidak ada bedanya dengan preman. Kalau tidak percaya, ayo ikut saya ).Demikian pengakuan Tatik, anak jalanan yang dilacurkan, yang dibenarkan oleh rekannya, Dewi.

Kelompok 2 :

Jualan koran di TP, diobrak, katanya supaya tidak jatuh, sering disetrom satpam di Lantai 8. Anak-anak kalau disuruh turun, kalau ada satpam, langsung dimassa sama anak-anak (korban).

Slamet (12 tahun) : “Aku ngamen dicakup, di Keputih, dicakup, disel, 2 minggu baru keluar. Dikasih makan kangkung tok.”

 Nurul Hidayati (11 tahun) : “Di dekat rumah saya ada pabrik kertas. Saya tidak suka polusi udara. Saya ndak suka kalau disuruh mbantu ibuk, njaga adik”

“Ngamen, hasil-hasilnya sebagian harus diberikan kepada seniornya. Seringkali dipukul langsung oleh tuan rumah tanpa tanya lagi”.

Slamet (12 tahun) : Teman saya banyak yang suka minum. Anak-anak habis jual koran, pulang, dipaksa untuk ikut minum. Terus disuruh urunan langsung beli minum dan rasanya enak.

Tatik : Sering dicolak-colek, aku sering dicolek susunya. “Ayuk dhik melu aku dhik, terus na.. na..na…na…” begitu goda orang-orang sekitarnya yang ditirukan dengan polos oleh Tatik.

Nurul Hidayati (11 tahun) : Saya tidak suka bercerita dengan teman sekelas, karena sindir-sindiran terus tukaran.

Hari  (17 tahun) : “Kalau ada minum-minuman keras di terminal, anak-anak dimintai/ dikompas  uang mulai Rp. 1000,- sampai Rp. 10.000,-. Padahal hasilnya ya sekitar Rp. 10.000,- an itu. Kalau habis mengamen pasti dikompas sama anak jalanan. Sasarannya pasti anak-anak kecil , termasuk saya.”

Slamet : Temanku namanya Widodo ( 17 tahun ), sering diomeli orangtuanya, “Wis minggato ae..Tetapi kalau bawa uang, diterima baik-baik”.

Saya punya teman, namanya…gak usah, diperkosa oleh orang mabuk, ada yang menendang kakinya. Setelah kejadian itu, si pemerkosa dengan lagak tidak berdosa mengatakan dia tidak ikut apa-apa supaya tidak lapor polisi.

Duit hasil kerja dipakai orangtuanya untuk judi togel.

Nama saya Emad, di Kedungdoro. Sering dipukul oleh orang yang menyemirkan sepatu.

Nama saya Wafid, umur sekitar 17 tahun. “Sebagian yang disampaikan teman-teman itu pengalaman orang lain, bukan dari dirinya. Teman tadi kurang jelas, kenapa disel, tolong dijelaskan.”

Dijawab oleh Slamet. Slamet lantas menceritakan pengalamannya saat ditangkap aparat (polisi). 

Polisi : “Koen ngamen dikon sopo?”

Slamet : “ Aku dhewe pak”.

Polisi : “ Dhuwike di gawe opo.”

Slamet : “Digawe mangan. Sampeyan nyekel aku koyok taek Pak.”

 Terus saya disel, diberi makan kangkung mentah saja, terus dibuang ke Keputih ( tempat pembuangan sampah akhir di Surabaya ). Ini pengalaman terburuk Slamet selama menjadi anak jalanan.

Kelompok 3

Nama saya Sunarsih Aprilia. Yang paling tidak saya senangi, waktu bicara dengan orangtua, selalu dipojokkan dan dianggap anak kecil, saya selalu disuruh cari makan sendiri. Saya sering dipaksa orangtua kerja dijalan. Ibu nyuruh aku kerja dijalan karena uang hasil kerja bapak, dipakai sendiri. Saya sering diangkut oleh orang iseng pakai mobil yang meong-meong itu, kalau tidak ikut, mau dipukuli. Saya diajak orang katanya mau diambil anak, terus beli, tapi disuruh nyopet. Uang hasil jualan koran dirampas teman-teman laki-lakinya. Saya sering dikatai, “Kamu perempuan ndak pantes jual koran..” Terus uang saya dirampas.

Lanjutnya, “Saya pernah dijual saat aku berumur 5 tahun, saat di Jogja, dan saat aku berusia 10 tahun aku dipaksa main seks dan dibawa ke Dolly. Saya ndak tahu apa itu Dolly.”

Kemudian dia meneruskan, “Saya benci kalau disuruh jual narkoba tetapi disuruh nyoba dulu. “Kamu kalau jual narkoba, ya kamu coba dulu” ujarnya menirukan calon pembelinya. Saya coba, tetapi dia ndak mau beli. Saat itu saya berumur 11 tahun (kelas 6 SD).”

Demikian lanjutnya, “ Katanya temen saya, jualan narkoba enak, karena uangnya banyak. Teman saya berusia 14 tahun, namanya Dewi,  dipaksa menikah karena kondisi ekonomi, untuk biaya rumah dan seisinya. Janji seorang yang mau menikahi Dewi, katanya mau dibelikan mobil, tetapi ternyata dibelikan becak. Wik, sini Wik. Dia memanggil Dewi, tetapi Dewi tetap duduk.

Lanjutnya, “Saya sering dikatain orang-orang sekitar, anak-anak jalanan sering dicap sebagai anak yang suka bikin gaduh, bikin rusuh. Bertengkar sama teman, dipanggil BP, dan guru BP membela teman saya itu.”

Ini penuturan Sunarsih lagi :

“Adanya diskotek, sering membuat anak-anak dipaksa melakukan seks bebas dan narkoba.

Karena sering ke diskotek, sering dipaksa nyoba narkoba, akhirnya ke seks juga.

Keberatan terhadap biaya sekolah. Minta pemerintah supaya memperhatikan. Hutang pemerintah tinggi, kenapa yang suruh nanggung kok rakyat kecil. Akibatnya anak-anak miskin jadi terlantar. Hasil kerja saya dipakai untuk judi, togel minum-minum. “Apa itu togel, pak? Katanya togel itu enak, itu makanan seperti pizza”. Kata bapaknya. Minuman apa itu pak yang kuning-kuning. Ini es teh, saya coba, kok rasanya kecut-kecut kayak oyoh gini. Akhirnya saya ketemu orang yang mengarahkan saya, Namanya  Pak Rahman dari SPMAA.

Nama Didik dari Pacitan. Saya nanya gimana ceritanya lolos dari penculikan di Jogya.

Dijawab oleh Sunarsih, ada orang yang katanya kaya mau ambil anak. Terus saya dibawa mobil, ternyata saya disuruh nyopet, dan jual narkoba.

Tanya : “Setelah nyoba narkoba, kenapa kok nyoba seks sekalian ?”

Dijawab oleh Renny, “Cara penyembuhan saya, soal seks dan narkoba, saya sering curhat ke Mbak Yuli, dan konseling ke Tretes.”

Kenapa kok ndak nyoba yang lain, jalan yang lurus saja ?

Dijawab Reny, karena desakan ekonomi. “Saya dulunya jual koran, karena kebutuhannya banyak, saya lari ke seks juga.”

Kelompok 4 :

Riski (perempuan, usia 15 tahun) : “Saya punya bapak angkat. Dia sering main togel, mabuk. Malam-malam jam 12, saya mau diperkosa, saya minta tolong tetangga, tapi dicuekin, saya terus ambil pisau untuk ngancam.”

Sering terjadi perkelahian antar anak jalanan, Anak jalanan sering merasa tertindas oleh anak yang lebih tua, sering mendapat penghinaan.

Heri (16 tahun) dari Walsama : “Pengalaman saya waktu ngamen di perempatan Darmo. Disitu ada bos preman yang menguasai daerah itu. Saya dikompas. Waduh mas saya baru dapet Rp. 5000. Saya lalu dikeroyok, dipukuli. Saya terus dirawat di rumah singgah.”

Banyak terjadi penyalahgunaan narkoba di antara anak jalanan.

Eksploitasi anak. Saya Herni. Di daerah saya banyak anak sebaya kita yang dipaksa oleh orangtuanya bekerja untuk kepentingan keluarganya. Kalau ndak mau, orangtuanya sering memaksa supaya berhenti sekolah dan bekerja saja. “Mau jadi apa kamu sekolah segala? Mau jadi presiden ? Ndak mungkin to?” Kata Herni menirukan orang-orang tua di daerahnya, termasuk orangtuanya sendiri.

Diskriminasi antar geng. Biasanya anak geng itu solidaritasnya tinggi.

Anak yang dirumah, tidak diakui sebagai anak.

Riski : “Saya dari kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orangtua (sambil nangis).

Jarang komunikasi dengan orangtua. Saya sering dipukuli orangtua, dikatain bukan anaknya (nangis lagi).”

Lanjut Riski : “Di daerah saya banyak sekali pengangguran. Mereka sering minum-minuman dan dapat mempengaruhi yang lain. Seharusnya mereka ditampung dalamlapangan kerja agar tidak jadi pengangguran. Kita merasa diasingkan, dianggap tidak penting, tidak dihargai oleh keluarga dan masyarakat. Di masyarakat saya, ada anggapan buat apa sekolah, ndak bakalan jadi apa-apa.” Riski meninggalkan ruangan sambil menangis.

Pertanyaan

  1. Pernahkah lapor ke aparat?
  2. Apa tanggapan dari aparat?

Jawaban :

Kristin (menirukan aparat yang dilapori): “Harah jarno opo’o. Sokur wis.” Lha ngono iku pantes tah polisi koyok ngono iku?” tukasnya.

Temannya yang lain, “Saya pernah nyoba nego dengan polisi. Tapi minta damai.”

Tanya : Pernah ada usaha untuk usaha yang lain ?

Jawab : Pernah nyoba tapi tetap di jalanan. Nego dengan sesama anak jalanan, sulit sekali.

Tanya : Adakah usaha dari teman-teman untuk menjalin hubungan dengan keluarga ?.

Jawab : Saya di jalanan sudah 6 tahun belum pernah pulang. Saya dari Cirebon, belum pernah tahu keluarganya, keluarga juga rupanya tidak mau tahu, Sebenarnya saya kangen sekali, tetapi bagaimana, ndak ada komunikasi.

Kelompok 5 : Jember

  1. Perlakuan aparat. Nama saya Fatah. Saya waktu ngamen di terminal,
  2. Saya waktu ngamen, ada polisi, gitar saya diurampas, dibawa ke polres. Saya disuruh ke polres. Sesampai di sana, say disuruh tandatangani perjanjian untuk ndak ngamen lagi.
  3. Anak yang putus sekolah harus kerja di perkebunan tembakau. Terus disuruh kawin. Anaknya ndak mau, tapi orangtuanya tetap maksa. Akhirnya anak itu minggat. Orangtuanya rupanya menyesal, terus anaknya dicari, akhirnya ketemu.
  4. Hasil kerja diminta orangtua buat keperluan belanja sehari-hari. Kalau ndak ngasih, kita ndak diladeni, ndak disuruh makan, dsb, seperti ndak ada gunanya.
  5. Banyak anak yang putus sekolah yang pengen melanjutkan, tetapi ndak diijinkan karena buat apa sekolah toh anak perempuan tidak jadi apa-apa dan masuk dapur.
  6. Kerja di perkebunan tembakau, anak-anak disuruh-suruh apa saja seenaknya. Kalau digudang, gajinya tidak seberapa. Kalau ada peninjauan UMR, anak-anak sering disembunyikan biar tidak lapor.
  7. Saya kerja sering kehilangan dompet, tas, dsb. Semua orang langsung menuduh anak-anak asongan.
  8. Saat saya ngamen di bis, saya diusir, gitar saya dibanting sama keamanan, namanya Pak Untung. Saya bilang teman-teman, terus teman-teman mendatangi Pak Untung sambil melempari kaca.
  9. Di tempat saya, ada yang digudang seng, atap. Baunya santer, air minum kotor karena tercemar. Anak-anak sering kena tusuk tusuknya tembakau, jatuh dari atas gudang. Teman-teman saya diperiksa dokter kondisinya amat parah, sakit paru-paru.

Kelompok 6 : Lamongan

Nama saya Ida, dari Lamongan (Fokal). :

  1. Disana rumah rumah berjubel, menjemur pakaian di depan rumah, sarana air minum tidak layak.
  2. Membagi waktu kerja dan sekolah, orangtua tidak maksa, anak-anak suka rela kerja sendiri.
  3. Anak-anak banyak kerja ngamen, jadi tukang becak, dll.

Temannya menambahi :

  1. Anak-anak sekolah, pulang skolah biasa kerja : ngamen, mbecak, nguli bangunan. Pulang kerja, kecapean.
  2. Kebiasaan berjudi dan minum miras yang meresahkan masyarakat. Banyak orangtua di daerah say ayan kerjanya ngamen, mbecak, hasilnya digunakan untuk judi, minum miras.
  3. Maslaha ekonomi yang berdampak negatif terhadap pendidikan anak. Kartena kurang mampu, anak-naka jadi pada umumnya pendiidkannya terlantar.
  4. Umumnya masyarakat Lamongan menengah kebawah, banyak anak DO.
  5. Sulitnya lap kerja, banyak pengangguran. Pdahal di Lamongan banyak industri, tapi mereka  tida mau mempekerjakan anak jalanan, karen adianggap buruk.

Untuk mengurangi kejenuhan, ice breaker, pukul 15.25. Antar peserta pijet-pijetan sambil baris berdiri. Kemudian saling menduduki paha temannya sambil jongkok berbaris. Acara dilanjutkan jam 15.58 WIB.

Kelompok 7 : Kediri.

  1. Kasus anak perkosaan anak perempuan dibawah umur, rata-rata dibawah SMP.
  2. Suara anak tidak didengar oleh orangtua serta seringya didikte orangtua.
  3. Maraknya narkoba.

Kelompk 8 : Tulungagung

Nama saya Fuad (15 tahun) :

  1. Anak-anak dipekerjakan untuk membantu ekonomi keluarga.
  2. Anak-anak kerja di peguungan, cari kayu.
  3. Banyak anak DO karena ekonomi orangtua lemah. Teman sya tidak mampu meneruskan sekolah karena tidak mampu membiayai.
  4. Pemerintah harus nbanyak memberi bantuan agar anak-anak mampu meneruskan sampai SMP.

Nama Ami Danal, Tulung Agung :

  1. Temen saya anak orang miskin, sekolah sambil kerja, jadi nilainya jelek.
  2. Orangtua terlalu sibuk sehingga anak kurang diperhatikan.
  3. Kebanyakan orang kerja, perhatian orangtua kurang, anak-anak jadi kurang perhatian, nakal sekali.

Nama Siswanto, Tulungagung :

  1. Kekerasan pada anak-anak, di desa saya diancam oleh desa lain, rumahnya mau dibakar.
  2. Banyak anak yang menjadi korban seks. Suatu malam di ada di rumah temannya, kemudian dia diperkosa oleh orang lain. Si lelaki bersedia menikahinya.
  3. Anak-nak yang nakal karena kurang perhatian dari ortu dan pemerintah, banyak anak yang kurang gizi karena keluarganya tidak mampu.
  4. Banyak anak yang tidak punya akte kelahiran, karena tidak mampu untuk mencari akte kelahiran karena tidak ada biaya.

Kelompok 9 : Pacitan :

Persoalan anak-anak di Pacitan :

  1. Minder, malu, takut mengeluarkan pendapat karena tertekan dari teman dan keluarga. Anak-anak sering dikatai goblok, ndak bisa apa-apa.
  2. Putus sekolah karena tidak mampu.
  3. Banyak judi, miras.
  4. Banyak VCD, anak-anak mencontoh perilaku adegan di TV dan VCD, adegan kekerasan , porno.
  5. Kurangnya kualitas sekolah yang mendukung kegiatan belajar-mengajar,

Nama saya Orip, dari Pacitan :

  1. Kurangnya fasilitas Kegiatan Belajar Mengajar, didesa saya, desa Kaligoreng.
  2. Siswa kurang bergairah belajar di sekolah
  3. Banyak guru yang tidak konsekuen dan kurang memiliki kemampuan mengajar. Contohnya, murid disuruh masuk pagi (jam 7 ), namun gurunya sendiri masuknya siang. Guru mengajar terlalu banyak berteori, prakteknya kurang sekali, ilmunya juga begitu kurang.

Kelompok 10: Probolinggo

Nama saya Eliana Arfianti dari Probolinggo. Kami membahas 2 tempat : Perkebunan tembakau  dan nelayan. Untuk yang pertama, perkebunan tembakau, kawan saya, Farid, yang akan menyampaikan.

Nama saya Ahmad Farid Nizar, dari Probolinggo :

“Saat panen tembakau, banyak melibatkan anak-anak, sehingga anak-anak sampai tidak sekolah karena kerja. Kerja di kebun tembakau berat sekali, karena disuruh menyiram tembakau.”

Kemudian Elly melanjutkan :

  1. Di kampung nelayan, pada waktu kapal datang, anak-anak berlarian ke kapal untuk mengambil/ memunguti  ikan yang jatuh dari kapal dan di jual.
  2. Jam datang kapal pagi, sehingga anak-anak yang kerja cari ikan jatuh tadi, terlambat ke sekolah.
  3. Bau ikan sangat mengganggu pernafasan.
  4. Anak-anak disuruh menjual ikan, hasil dibagi berdua, antara orangtua dan anak, atau diambil orangtua semua.

Kelompok 11 : Bondowoso :

Persoalan anak-anak Bondowoso :

  1. Kawin muda, cerai juga usia muda. Anak usia 15 tahun banyak yang jadi janda.
  2. Anak-anak banyak disuruh nyari uang buat dana pembangunan masjid. Itu kan urusan orangtua.
  3. Kesadaran orangtua akan pentingnya akte kelahiran sangat kurang, padahal itu kan hak anak yang paling awal.
  4. Anak-anak sering disuruh orangtua untuk mbolos sekolah untuk kerja. Akibatnya kan bisa jadi DO.

Novita, Bondowoso menambahkan :

  1. Pelecehan seksual. Ada sopir yang mengatar anak ke sekolah, dia tega memperkosa anak tersebut.
  2. Anak-anak dibawa ke hotel.
  3. Kesehatan anak-anak terabaikan dan memandang enteng kesehatan anak.
  4. Anak baru lulus SD sudah harus bekerja untuk ikut menghidupi keluarga. Dengan dalih membantu, pada akhirnya keterusan.
  5. Kurangnya perhatian pada anak-anak, sehingga anak-anak larinya ke narkoba dan miras.

Kelompok 12 : Malang

Nama saya Anjun, arek Malang. :

  1. Masalah pendidikan. Banyak anak yang belum mendapat pendidikan, karena kesadaran untuk pendidikan kurang. Mereka lebih senang kerja, misalnya jadi TKW ke luar negeri.
  2. Hubungan guru – siswa. Guru kurang berfungsi sebagai pendidik. Hanya pengajar saja. Guru suka mengancam siswa dengan nilai, akibatnya anak-anak jadi malas ke sekolah.

Ike, Malang : “Kelangsungan hidup (faktor ekonomi), pemerintah harus memperhatikan ini.”

Fitri, Malang :

  1. Hak perlindungan : hak mendapatkan kasih sayang. Pengalaman teman saya, dia kurang mendapat perhatian dan kasiuh sayang dari orangtuanya. Jadinya mengarah pada narkoba dan miras.
  2. Banyak anak kecil yang dipekerjakan, dengan jam kerja sama denganorang dewasa.  Mereka perlu dilindungi.

Demikian penuturan anak-anak.

Identifikasi masalah

Di jalanan
  • Dipaksa kerja dijalan.
  • Dipaksa nyopet
  • Dicakup
  • Dipaksa aparat ngeseks gratis.
  • Dikompas di jalanan
  • Dianggap sampah
  • Dipaksa beli miras.
  • Pelecehan seksual di jalan.
  • Perkosaan di jalan.
  • Kekerasan oleh anak besar pada anak kecil
  • Disetrum
  • Polusi di jalan
  • Kekerasan antar geng
  • Kekerasan di jalan
  • Budaya judi
  • Diancam dijalan
  • Dikompas anjal
  • Diskotek
  • Disuruh jual narkoba
  • Penyalahgunaan obat (drug abuse)
  • Dibuang, disel
  • Disiksa oleh aparat di sel
  • Kasus pelecehan dibiarlkan polisi.

Di sekolah

  • Dihina disekolah
  • Perbedaan perlakuan siswa anjal dan  bukan anjal.
  • Penindasan oleh anak besar kepada anak kecil.
  • Dikelas teman sering menyindir.
  • Guru meremehkan murid.
  • Kemampuan guru dalam mengajar kurang
  • Guru sewenang-wenang
  • Pelajaran : teori terus, tidak pernah praktek.

Di rumah

  • Kekerasan fisik
  • Orangtua cuek atas persoalan anak.
  • Disuruh menjaga adik
  • Polusi udara
  • Eksploitasi ekonomi.
  • Pemaksaan pernikahan dini.
  • Dipaksa setor uang kepadsa orangtua untuk judi.
  • Orangtua peminum.
  • Kekerasan seksual oleh bapak.
  • Tidak boleh sekolah.
  • Tidak disayang/ diakui orangtua.
  • Orangtua banyak yang menganggur.
  • Pengaruh VCD/ TV ( adegan kekerasan dan porno ).

Di Perkebunan

  • Kerja di perkebunan tembakau
  • Bekerja tanpa batas dengan gaji kecil.
  • Bekerja illegal
  • Tempat kerja buruk ( lembab, bau tembakau).
  • Tidak ada air minum yang layak.
  • Kecelakaan kerja, misalnya jatuh dari atap gudang.
  • Berhenri sekolah untuk kerja di kebun.
  • Menyiram tembakau ( beban air sangat berat ).
  • Dipaksa kawin.

Lingkungan

  • Perkosaan
  • Rumah-rumah kumuh.
  • Polusi air dan udara.

Pedesaan

  • Kerja mencari kayu.
  • Perkelahian antar desa.
  • Putus sekolah.
  • Korban perkosaan
  • Tidak punya akte kelahiran.
  • Fasilitas sekolah sangat minim.
  • Kawin muda.
  • Banyak anak perempuan jadi janda muda.
  • Bolos sekolah untuk tanam dan panen
  • Kerja di luar negeri jadi TKW.

Nelayan

  • Kapal datangnya pagi, maka tidak bisa sekolah.
  • Disuruh jual ikan oleh orangtua.
  • Polusi : baunya menyengat dan menyesak dada.
  • Lokasi sekolah jauh.

HARI II : ACARA UNTUK PENDAMPING; SABTU, 21 JULI 2001 pukul 09.00 WIB

Fasilitator : Aries Lemmu, Plan International, PU Surabaya

Peserta : para pendamping anak Jatim.

Acara dimulai dengan perkenalan para peserta dengan tanpa kata, ekspresikan dengan mimik dan pantomim, layaknya pemain teater, kemudian perkenalkan nama, asal.

Satu persatu peserta memperagakan profil kegiatannya dengan pantomim.

  1. Dewi YPSM Jember
  2. Ida, ASSA Surabaya
  3. Wawan, Yayasan Wahana, Probolinggo
  4. Nanang, LPA Jatim
  5. Dwi, Paramitra Jember
  6. Nur Hasanah, LPA Tulungagung
  7. Anis, FPA Probolinggo
  8. Aries W., Plan International Surabaya
  9. Didik, Insani Surabaya
  10. Bambang, SPMAA Surabaya
  11. Nur Habib, YABNU Kediri
  12. Bukhin, SPMAA Surabaya
  13. Elok A, Walsama, Surabaya
  14. Imam, PKBI Jatim
  15. Teguh, WVI Malang
  16. Tejo, Plan Pacitan
  17. Andi, Plan Surabaya
  18. Rikman, IPAS surabaya
  19. Muslimin, IPAS Surabaya

Sharing antar peserta mengenai problem yang dialami selama pendampingan lapangan, interaksi dengan anak dampingan, dsb.

Diskusi kelompok, peserta dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing membahas permasalahan yang terjadi di kelompoknya :

  1. Kelompok Perkotaan
  2. Kelompok Pedesaan
  3. Kelompok Anak Jalanan.

 Dilanjutkan dengan presentasi menurut gaya masing-masing. Ada kelompok mempresentasikan dengan  pantomim ( kelompok 1), gambar ( kelompok 2 ), dan drama ( kelompok 3 ).

Kelompok 1 memperagakan gerakan 4 orang jongkok di hadapan satu orang berdiri sambil mengacungkan tangannya menuding kearah 4 orang jongkok, kemudian dilanjutkan gerakan seorang mau memukul 3 orang yang jongkok di hadapannya dengan takut-takut, tangannya sedang dipegang oleh seorang perempuan dari belakang.

Kelompok 2 menceritakan gambar corat-coretnya tentang kondisi anak-anak pedesaan. Ada gambar anak sedang naik kerbau sambil berkhayal ( ada ilusi paha ayam, botol susu dan gedung sekolah di atas kepalanya ). Kata pencerita, itu paha dan susu, karena anak-anak desa juga sudah mengenal pornografi, ada gambar 2 anak laki-perempuan, sedang “nggelek”, di belakangnya ada TV menyala denga tayangan botol susu dan paha ayam juga. Ada anak mendorong gerobak isi batu kali, memanggul keranjang penuh ikan, gambar gudang, ada anak perempuan bawa keranjang. Ada gambar anak perempuan baca buku dengan ilusi  gambar anak-anak jadi penganten dan bapak galak.

Kelompok 3 memperagakan fragmen 2 anak jalanan laki-perempuan yang lari dari rumah, memilih hidup di jalan, tidak punya uang, belum makan, minta kawannya tidak punya uang juga, akhirnya ngamen. Dapat uang, dikompas preman. Pulang, dimarahi bapaknya, diusir, dikata-katain dan diperlakukan secara kasar. Dua anak tersebut terpaksa kembali lagi ke jalan, mencari makan di jalan, bergumul dengan segala kekerasan hidup di jalan. Dengan gaya teatrikal yang cukup memikat, setidaknya bagi peserta yang mendadak menjelma menjadi sineas muda dadakan, kelompok 3 berusaha menyuguhkan deskripsi dinamika kehidupan keras di jalan yang senantiasa dialami oleh anak jalanan. Pada akhirnya 2 anak jalanan tersebut ketemu seorang yang mengaku dari lembaga peduli anak jalanan. Dengan gaya yang dibuat meyakinkan dan sok paling pintar, sang tokoh pekerja sosial ( perempuan ) ini menawarkan solusi pendidikan bagi anak jalanan. Justru inilah sisi menggelitik yang ingin ditonjolkan oleh kelompok ini. Bagaimana mungkin anak jalanan yang lebih familiar dengan ‘bahasa jalan’, bahasa keras, lugas karena selalu dihadapkan dengan masalah praktis, makan atau tidak makan, hidup atau mati ini tiba-tiba saja disuguhi pendidikan. Hal yang sama sekali tidak menyentuh hajat hidup anak jalanan. Makanan apa itu? Hal ini tampak ketika sang tokoh anak jalanan mempertanyakan “Aku iki butuh mangan, saiki luwe, sampeyan duwe dhuwik opo gak mbak?” tanyanya lugas dan logis. Dengan gaya sok pahlawan seperti salesman yang ingin barangnya terjual, dengan cerdas, kontan saja sang mbakpekerja sosil tadi menyahut, “Oh, onok, ojok kuatir soal dhuwik. Sing penting melok aku”. Inilah kekonyolan kedua yang dipamerkan oleh sang tokoh pekerja sosial. Bagaimana ia menunjukkan dengan bangga bahwa ia (lembaganya) tidak pusing soal uang dan siap menghidupi anak jalanan. Seolah ia mau menunjukkan ia adalah sinterklas atau dewa penolong yang instant. Pendekatan dengan anak jalanan berakhir dengan keputusan dari 2 tokoh anak jalanan : mereka (anak jalanan) memilih menghindar dari sang mbak pendamping dengan jalan pergi diam-diam keluar kota.

HARI II : WORKSHOP GAMBAR; Sabtu, 21 Juli 2001 pukul 09.30 WIB

Fasilitator : MbakYuli, ALIT Surabaya

Presentasi Kelompok

Kelompok Sekolah Kota dan Lingkungan Kumuh

Riski datang ke sekolah terlambat., lantas dihukum disuruh ngepel sambil njengking, sambil dikatain oleh gurunya : “Kamu ini anak haram, anake wong mbambung…”

Saya dipukuli sama Pak Guru sampek bokong saya memar. Saya teriak, “Ampun Paaak !!”

Anton dkk jualan koran di TP, ketahuan satpam, terus Satpam teriak : “He sampah, turun!

Anton terus disetrom sama satpam. Satpam dibalas oleh kawan-kawan Anton ketika pulang kerja, tetapi polisi keburu datang.

Saya ngamen di sepur, terus dikompas Shandy (teman sesama anjal ).

Banyak anak-anak dicakup, disiram oleh Polisi

Di pasar banyak anak jualan, dipukuli orang sampek babak belur.

Di daerah pabrik sering terjadi polusi, anak-anak sering sesak napas.

Sambil nunjuk gambar seorang anak cerita; “Itu rumah saya, disitu say adiperkosa. Say teriak tolooong, toloong. Tapi nggak ada yang ngreken.

Anak sekolah yang kebetulan kerja, dijalan dikompas, di rumah diperkosa bapaknya, disekolah dihina guru dan teman-temannya.

Kampung Nelayan

Tiap hari kapal itu datang sekitar jam 7.00 pagi, kadang lebih, anak-anak banyak yang suka bolos untuk ngambil ikan yang jatuh dari kapal, lalu dijual ke pasar, siangnya kalau ikannya masih sisa, ikannya dibawa pulang, dikeringkan oleh emaknya. Anak-anak disuruh mbantu mengeringkan juga.

Rumah penduduk penuh sesak oleh ikan, dan di sekitar rumah penduduk dekat dengan tempat pembuangan sampah. Baunya nggak enak. Bikin dada sesak. Pada waktu anak-anak menjual ikan, jadinya nggak ke sekolah. Di kampung nelayan sulit njangkau sekolah, jadinya sering terlambat ke sekolah, atau males pergi sekolah.

Di rumah, anak-anak sering disuruh ibunya mengeringkan ikan, ndak boleh main, serta dimarahi ibunya.

Sekolah di Pedesaan

Ini gambar sekolah. Ada ruang kelas, ruang TU, BP, perpust, dsb. Seorang guru yang jahat, sering memarahi muridnya. Ngajarnya gak enak, IQ nya rendah, nggak pernah njelasin, nsuruh nulis2 saja, ulangan, main marah saja. Di kelas ngajarnya sambil merokok. Tapi sering nyuruh muridnya baik. Teori melulu, nggak pernah praktek. Murid bosen.

Saya sering disindir kakak kelas. Seorang teman, anak orang miskin, sering mbayangin pengen sekolah, nggak ada biaya. Fasilitas sekolah nggak memadai. Alat praktikum rusak. Anak-anak jadi kurang interest sekolah. Sering terjadi tawuran antar geng.

Guru tidak konsekuen dengan aturannya. Guru mesti nyuruh muridnya disiplin, telat. Dia sendiri suka telat.

Perlakuan guru beda antar anak orang kaya dan anak orang miskin. Pemberian nilai berpihak sama anak orang kaya. Anak orang kaya walaupun bodoh nilainya bagus, tetapi anak miskin, walupun pinter, nilainya tidak bisa sebagus anak orang kaya. Teman-teman kaya memandang rendah yang miskin.

Kelompok Lingkungan Pedesaan

Anak permpuan ketemu orang laki-laki, diberii pil, diperkosa bergiliran.

Anak dijewer bapaknya karena bapak tiri, padahal ia sudah nurut banget sama orangtua.

Anak-anak yang sekolah sering bolos, karena disruh nanam tembakau, sulit kendaraan, begitu masuk sekolah sudah terlambat, ndak bisa ikuti pelajaran, sering ndak naik kelas, akhirnya di DO. Akhirnya disuruhlah kawin ia sama orangtuanya. Begitu kawin, sering tukaran sama pasangannya, sehingga yang perempuan ndak tahan, minta cerai.

Anak yang kerja bikin genteng seperti saya, mulai jam 06.00-07.00. Di sekolah belajar sampai jam setengah satu. Pulang sekolah, membantu kerjaan orangtua lagi. Ditempat kerja pembakaran genteng, kena api, polusi udara, napasnya sesak. Sering salah, dijeweri kupinge sama bapaknya. Stress, akhirnya lari ke pil koplo.

Kebiasaan nikah siri. Susah ngurusin akte, sehingga susah untuk ke sekolah, dsb.

Kerja di pegunungan cari kayu, dijual, uangnya untuk biaya sehari-hari.

Ini adalah contoh pil, miras. Ini enak, katanya. Ini gambarnya.

Kelompok Perkebunan

Ini adalah perkebunan tembakau di Probolinggo dan Jember. Di kebun, banyak melibatkan anak-anak untuk kerja kebun. Mulai nanam, nyiram, panen, mikul tembakau. Anak-anak nyiram tembakau (laki-laki), memanen (perempuan), yang mikul orang lain. Anak-anak nyujen tembakau di gudang atak (perempuan), gurau dengan teman, dimarahi mandor. Di dalam gudang atak tidak ada udara masuk, lembab, anak-anak sesak napas. Karena gudang lembab, kerja cepat capek, sering ketusuk sujen. Terus dibuat guyon sama teman, biar ndak terasa capek, tapi dimarahi mandor.

Kelompok Perempatan

Iki gambare anak dipukul satpam. Iku aku pas dodol, dikon ngaleh gak gelem, diseret nang lantai 8, dipentung, mbendol. Wis.

Pas ngamen di perempatan Siola. “Dik kamu gak malu ngamen di prapatan. Ayu-ayu kok ngamen. Koncoku dijukuk”.

Pas ngamen, datang anak-anak kayak jagoan, minta uang. Saya nggak ngasih, terus saya dipukuli.

Ini gambar saya pas ngamen di jalan, ketemu polisi, gitar saya dirampas. “Nanti diambil di Polres”. Terus saya pergi ke Polres, sesampainya disana saya ditahan, terus dibawa ke pengadilan.

Seorang peserta anak perempuan menuturkan :

“Ketika itu kami habis makan nasi goreng, tahu-tahu dicakup polisi, terus dinaikkan mobil patroli, dan dibawa ke Polsek. Di polsek ternyata disuruh nemenin polisi njaga semalaman. Saya minta minum ndak boleh. Kami diberi air kran. Kami ditanyai macem-macem. Kita tanyain pak polisinya,“Salah kita apa kok tiba-tiba dicakup. Kalau kita ini dianggap melanggar lalu lintas, ngapain kok ndak ada rambu-rambu lalu lintas “Dilarang Mbalon” ?

 Kelompok Lingkungan Kumuh

Di daerah saya, air sungai kotor sekali, orang-orang tiap hari mandi di sini, make’ air di sini. Asap kendaraan sangat mengganggu.

Terjadi perkelahian dekat terminal. Anak-anak dikompas, dimintai uang. Walaupun terjadi perkelahian, aparat membiarkan saja. Ada pasar kumuh, ada sungai kotor. Anak-anak mandi, main disitu.

Di Lamongan, ada seratus rumah kumuh tempatnya orang mbambung. Mereka ditampung oleh kelurahan, mengangsur bayar ke pemerintah (kelurahan). Mereka berasal dari berbagai tempat. Orang-orang menganggap itu tempat penampungan (milik pemerintah), padahal itu mereka membayar. Rumah-rumah itu dekat pabrik rokok.

Kalau kemarau, kering, sulit dapat air. Anak-anak disuruh beli air untuk kebutuhan sehari-hari. Anak-anak juga menjual air itu seharga Rp. 750,-. Belinya Rp. 150,-.

Banyak anak kerja dipabrik rokok, sekitar umur 14 tahun. Anak-anak banyak yang sakit pernapasan (sesak napas). Banyak perjudian. Banyak orang judi, mabuk dan tawuran. Polisi gak ngreken.

Kelompok Terminal

Anak-anak ngamen yang kecil selalu ditindas oleh anak-anak besar. Di setopan Dupak, anak-anak kalau ndak dapat uang, suka nyuri uang.

Kalau di Jember, di terminal Tawang Alun, tiba-tiba datang aparat minta jatah minuman 2 botol, tapi teman saya ndak ngasih, temen saya dibanting.

Di bis, anak-anak ngamen dihajar oleh anak-anak besar. Di setasiun, anak-anak dipukuli  polsuska, didorong dari kereta, terjatuh dari kereta samapi mati. Di bis kota, anak-anak ngamen yang kecil, kalau ketahuan sama anak besar, didorong samapi jatuh dari bis.

Dari presentasi oleh anak-anak, tampak betapa banyak ragam kesulitan dan masalah yang dialami oleh anak-anak di berbagai kelompoknya. Anak-anak menginginkan masalah ini diperhatikan oleh pihak luar. Salah seorang anak mengungkapkan dengan nada jengkel, “Pemerintah selama ini hanya mengurusi masalah hutang. Itu kan urusan pemerintah, bukan urusan anak kecil. Lagian hutang itu bukan untuk anak-anak. Buktinya kami ini masih tetap sengsara.”

Harapan-harapan Peserta

  1. Ingin agar masalah-masalah yang menimpa anak-anak ini ada tindaklanjutnya yang jelas.
  2. Supaya yang lain (maksudnya, pihak-pihak lain) tahu pahitnya kehidipan pahit anak-anak.
  3. Supaya pemerintah tahu nasib anak-anak.
  4. Anak-anak butuh perlindungan hak oleh orang dewasa.

Cara memenuhi harapan tersebut :

  1. Demo
  2. Minta dukungan

Acara break dengan menyanyikan lagu KHA bareng, kemudian nyanyi lagu dadakan oleh Mbak Ida dari ASSA. Kemudian games lagu “Ikuut..ikuut ikuut sayaaa” Peserta diminta mengikuti gerakan pemandu sembari menyanyikan “Ikuut, ikuut, ikuut saya”. Demikian dilakukan terus bergantian yang menjadi pemandu, yang dipilih secara acak. Ada peserta yang kena giliran melakukan gerakan lompat-lompat, berputar, dn diikuti oleh seluruh peserta. Giliran Slamet yang kena acak, dia langsung memperagakan gerakan monyet garuk-garuk kepala sambil berjalan ala monyet. Kontan saja seluruh peserta tak terkecuali kakak-kakak pendamping ikutan “jadi monyet”.

Pembagian Kelompok untuk Pertunjukan

Kelompok 1 : Anjal; ( Fasilitator : Fitra )

Kelompok 2 : Sekolah Desa; ( Kenyut)

Kelompok 3 : Lingkungan Kumuh, Polusi dan Nelayan ( Arik ).

Kelompok 4 : Perkebunan ( Wiwid)

Kelompok 5 : Sekolah Kota ( Fatah )

HARI III : EVALUASI HASIL KONGRES ANAK DAN RENCANA TINDAK LANJUT

Minggu, 22 Juli 2001

Fasilitator : Mbak Yuli, Yay. ALIT Surabaya
Pengalaman/kesan dan pesan setelah Kongres
Fasilitator mengawali penggalian pendapat dari peserta mengenai kesan-kesan setelah mengikuti proses kongres, seputar apa yang berkesan baginya, bagaimana perasaannya, apa masih ada perasaan kurang enak, merasa tidak punya kawan, merasa kurang atau tidak bisa bersatu dan menyatu dengan kawannya, merasa belum bisa menerima ‘profesi’ kawannya, merasa belum punya perasaan bersaudara dengan kawan dari daerah lain, dsb.

Berikut beberapa ungkapan dari peserta :

Sandy : “Dalam kelompok kami menampilkan musik untuk memupuk kebersamaan dan saling kenal dengan tiap-tiap anak dari daerah lain dan mencoba mengembangkan musik anak jalanan, dan memadukan musik yang ada didalam anak-anak. Kami sudah merasa satu saudara dengan teman yang ada dikota lain.”

Tatik menyampaikan pengalamannya dengan kawannya dari lain daerah dan lain ‘profesi’; katanya, “Dia (sambil menunjuk kawannya) awalnya masih malu-malu sebelumnya terus saiki wis ngisin-ngisini.

Dari Pendamping perasaannya :

Fitra : Anak tersebut punya khas sendiri dan kadang kalau latihan tidak lengkap.

Dari pengalaman mas Fitra mengajar Kelompok Anjal, yang sedikit menjengkelkan  adalah ada yang lebih mementingkan urusannya sendiri dari pada temannya. Sebagaimana ungkapan lugas Slamet sang bintang kongres. Ketika fasilitator menanyakan memilih mana antara menolong kawannya yang kena kecelakaan atau nonton Persebaya, katanya dengan tangkas dan singkat, “Persebaya!”. Tetapi ketika fasilitator menanyakan memilih mana antara menolong Tedy (sesama anjal) yang kecelakaan ataukan nonton Persebaya, Slamet langsung menjawab “Tak tulungi !”  ( Maksudnya, di lebih memilih menolong Tedy ).

Fatah : “Adalah kurangnya saling menghargai antar sesama teman,   ketika satu sedang main yang lain main sendiri.”

Reny : “Saya merasa lebih endhel.”

Hana : “Pada awalnya saya lihat kawan-kawan kok liar banget, saya takut, tapi setelah berkumpul, saya jadi enak bergaul dengan kawan-kawan.”

Kelompok dampingan mas Arik, rata-rata sulit menyampaikan uneg-unegnya.

Fasilitator : “Apa sih pentingnya bersaudara diantara kita? Buat apa kita bersatu ?”

Dari jawaban peserta :

  1. Biar saling bersatu.
  2. Biar jadi lebih kuat, seperti kata Tedy.
  3. Anak-anak Jawa Timur merasa lebih kompak.
  4. Biar bisa saling membantu
  5. Sudah merasa satu, tidak mudah diadu domba.

Dari penggalian pendapat peserta, diidentifikasi bahwa hasil-hasil Kongres, disamping harus diketahui oleh pihak luar, juga perlu adanya upaya untuk menindaklanjuti perasaan bersatu dan bersaudara yang telah terbangun bersama.

Persiapan Pengiriman Delegasi ke Kongres Anak Indonesia ( KAI ) 2001 di  Jakarta

Kriteria peserta ke Jakarta :

  1. Dapat menyuarakan aspirasi kawan-kawan anak-anak Jawa Timur
  2. Dapat menyampaikan hal-hal yang terbaik bagi anak-anak :
  1. Dapat menyuarakan aspirasi anak yang tertindas.
  2. Bertanggungjawab kepada temannya, dengan mensosialisasikan hasil KAI 2001 kepada teman-temannya.
  3. Dapat menyampaikan kebenaran : sesuai dengan keadaan sebenarnya.
  4. Anak yang bermasalah.
  5. Anak yang langsung mengalami kejadian sehingga dapat lebih bercerita dengan benar dan jujur.

Persiapan Acara Penutupan, antara lain adalah penyampaian hasil Kongres Anak kepada audience, antara lain dengan menggunakan media pertunjukan.

Tindaklanjut pasca KAI 2001 Jakarta, yang terpenting adalah sosialisasi kepada kawan-kawan lain, peserta KA Jatim 2001.

Metode sosialisasi :

  1. Delegasi merumuskan hasil dan menyampaikan kepada kawan-kawan peserta KAJ 2001 dengan menyampaikan secara tertulis kepada lembaga-lembaganya.
  2. Delegasi diambilkan dari wakil masing-masing kelompok/ komunitas anak, untuk memudahkan sosialisasi hasil KAI 2001 Jakarta.

Penentuan delegasi ke Jakarta; didasarkan pada issue pokok kelompok :

  1. Anak jalanan prapatan ( Fas. : Tedy )
  2. Anjal terminal-setasiun ( Guen )
  3. Ayla  ( Fitra )
  4. Perkebunan ( Wiwik )
  5. Nelayan ( Ari )
  6. Sekolah Kota ( Fatah )
  7. Sekolah Desa ( Diky )
  8. Lingkungan Pedesaan ( Kenyut )
  9. Lingkungan kumuh ( Andri )

Masing-masing kelompok mendiskusikan calon delegasi ke KAI 2001 Jakarta berdasarkan kriteria yang telah disepakati. Berikut hasil diskusi :

NOKELOMPOK/ KOMUNITASNAMA ANAK (Wakil Kelompok)
1.Anak Jalanan PrapatanSlamet
2.Anak Jalanan Terminal-SetasiunHary
3.AylaRenny
4.PerkebunanMuryati
5.NelayanElly
6.Sekolah KotaHana
7.Sekolah DesaIda
8.PedesaanSari
9.Lingkungan KumuhWafid

Pada saat hasil diskusi kelompok  tentang pemilihan calon perwakilan kelompok untuk ke Jakarta, disampaikan kepada forum kongres, terdapat satu keberatan dari peserta kongres terhadap wakil sekolah desa yang diwakili oleh Ida, siswa SMU XI Surabaya yang menurut peserta yang keberatan, karena Ida anak kota (Surabaya). Pada saat klarifikasi kepada kelompok diskusinya, disampaikan latar belakang pemilihan Ida, termasuk anak-anak sekolah desa dari Pacitan, dll, menyatakan mereka memilih Ida karena :

  1. Kondisi sekolah Ida yang sama dengan sekolah desa. Sekolah Ida merupakan sekolah terbelakang, yang berada di sebuah desa di pinggiran wilayah kota Surabaya (berbatasan dengan Gresik, yakni Desa Sambikerep, desa IDT).
  2. Oleh kelompoknya Ida dianggap lebih mampu mewakili dan menyuarakan aspirasi kawan-kawan sekolah desa dari daerah lain.

Akhirnya disepakati secara aklamasi, Ida tetap mewakili kelompok sekolah desa.

Permasalahan kedua muncul, karena jumlah wakil yang teridentifikasi sebanyak 9 anak, sedangkan jumlah delegasi direncanakan 10 anak, maka kongres mengadakan pemilihan langsung diantara para peserta yang layak. Pertama, seluruh peserta mengajukan  calon sebanyak 4 anak :

  1. Riski                                                                              
  2.  Iwan
  3. Ika                                                                                 
  4. Shandy

Jumlah pemilih (kartu suara) : 47 peserta.

Kemudian peserta melakukan pemilihan secara tertutup terhadap keempat calon. Dari pemungutan suara secara rahasia, didapatkan hasil perolehan suara sebagai berikut :

  1. Riski                               : 10 suara                             
  2. Iwan                               : 17 suara
  3. Sandy                            : 11 suara                             
  4. Ika                                   : 9 suara

Dengan demikian, delegasi yang terpilih adalah Iwan.

Pemilihan pendamping :

  1. Pendamping Laki-laki

Calon pendamping yang diusulkan peserta dan perolehan suara :

Jumlah pemilih (kartu suara) : 52 peserta.

  1. Andre                             : 26 suara                             
  2. Fatah                             : 6 suara.
  3. Bambang                      :   9 suara                             
  4. Didik                              : 7 suara
  5. Deni                                :   5 suara

Pendamping terpilih : Andre (Yay. ALIT Surabaya ).

Pendamping Perempuan

Calon yang diusulkan peserta :

  1. Ida                                  : 17 suara                             
  2.  Dewi                              : 32 suara
  3. Anis                                :   0 suara

Pendamping terpilih : Dewi (YPSM Jember)

Pemilihan delegasi anak dan pendamping selesai, dilanjutkan dengan pengukuhan dan pengambilan janji untuk menyuarakan hasil Kongres Anak Jatim 2001 ke arena Kongres Anak Indonesia 2001 di Jakarta. Acara pengambilan janji selesai, dilanjutkan dengan  spontanitas peserta : pengguyuran delegasi dan pendamping terpilih dengan air minum gallon-an. Acara langsung bubar dan dilanjutkan nanti malam.

HARI IV : RENCANA TINDAK LANJUT, Senin, 23 Juli 2001 pukul 19.30 WIB

Fasilitator : Hari Sadewo, Plan International

Tindak lanjut hasil Kongres Anak Jatim 2001

  1. Mengirim delegasi ke Kongres Anak Indonesia 2001 di Jakarta.
  2. Pertemuan lanjutan secara rutin, tempat, waktu/ periode, fasilitator, dsb, ditentukan kemudian.
  3. Pelatihan untuk anak, misalnya pelatihan organisasi, pengembangan kapasitas anak untuk mengembangkan jaringan organisasi melalui pendekatan pembentukan peer-group, yakni penyiapan kader untuk komunitasnya, sehingga misalnya ada masalah di lapangan, kader peer bersama komunitasnya dapat menyelesaikan masalahnya tanpa harus selalu tergantung kepada pendamping, baik personal maupun lembaga.
  4. Memperkuat dan memperluas jaringan perlindungan anak, baik tingkat Jawa Timur maupun nasional, serta internasional bila dimungkinkan.
HARI V : Perumusan Isu Utama yang akan dibawakan oleh delegasi KAI Jakarta;
Selasa, 24 Juli 2001, pukul 08.30 WIB.
Fasilitator : Hari Sadewo (Plan International), Gunadi (ALIT), Andre (ALIT), Dewi (YPSM).

Pengelompokan isu :

Kelompok I           : Perkebunan, pedesaan, nelayan                                     : Muryati, Sari, Elly.

Kelompok II         : Anak jalanan, penegakan hukum dan HAM                : Slamet, Reny, Hari

Kelompok III       : Rumah, lingkungan                                                          : Wafid, Dewi

Kelompok IV       : Sekolah                                                                               : Ida, Hana

Beberapa Isu utama dari hasil rumusan tim delegasi KAI Jakarta

Perlakuan Polisi Terhadap Ayla

  • Ketika anak-anak “ngeber” di jalan, sering ada cakupan oleh polisi dengan alasan ketertiban.
  • Cakupan dilakukan malam hari.
  • Pernah ada kasus anak-anak yang sedang makan di warung pun kena cakup.
  • Setelah dicakup, anak-anak di-sel di polres.
  • Tidak jarang anak-anak dipaksa melayani (ngeseks) gratis oleh polisi yang nyakup, dengan ancaman akan di-sel/ dibuang atau bahkan dibawah todongan pistol.

Perlakuan Keras Aparat

  • Anak-anak yang diterminal sering dirampas gitarnya oleh petugas DLLAJ.
  • Tentara yang suka nongkrong di terminal juga sering meminta jatah untuk minuman keras kepada anak jalanan.
  • Anak-anak yang di setasiun/ kereta dilarang ngamen oleh polsuska, gitar mereka dirampas kemudian mereka ditendang hingga jatuh dari kereta api yang sedang jalan.

Pelecehan Hak Anak-anak Jalanan

  • Dianggap sampah masyarakat dan mengganggu keindahan dan ketertiban kota.
  • Polisi dalam operasinya sering merampas gitar anak jalanan yang ngamen.
  • Demikian juga Satpol PP juga sering melakukan “cakupan” kepada anak jalanan.
  • Namun anak-anak jalanan ada juga yang melakukan perlawanan sehingga tidak jarang anak jalanan tawuran dengan Satpol PP.
  • Anak-anak yang terjaring dalam operasi cakupan kemudian di buang ke penampungan, yang hanya diberi makan kangkung rebus 3x sehari.

Penanganan Aparat Terhadap Anak Jalanan (Kriminal)

  • Karena tidak punya uang, anak-anak pernah mencuri wheel dop mobil yang di lampu merah.
  • Setelah itu polisi menangkap, menyiksa anak-anak terlebih dahulu.
  • Kemudian dimasukkan ke dalam sel.

Kekerasan Terhadap Anak-anak di Mall

  • Anak-anak dilarang berjualan koran di mall.
  • Perlakuan terhadap anak-anak seringkali memukul, bahkan ada anak-anak yang disetrom.

Keterlibatan Anak Pada Narkoba

  • Anak-anak di diskotik dengan mudah mendapatkan dan menggunakan narkoba.
  • Anak-anak di jalan pun demikian.
  • Tidak jarang setelah anak-anak mendapatkan, lalu menjual narkoba itu untuk mendapatkan uang.

Dipaksa Kerja Oleh Orangtua

  • Ada orangtua anak yang menyuruh anak kerja di jalan untuk cari uang

Ancaman Kekerasan Seksual

  • Ancaman perkosaan terhadap anak-anak jalanan, terutama yang perempuan.
  • Sopir taksi juga sering men-jawil / mencolek bokong anjal perempuan.
  • Kasus-kasus seperti diatas dibiarkan saja oleh polisi walaupun tahu/ dilapori.
  • Ada anak-anak yang diancam jadi PSK.
HARI V: PENUTUPAN; Selasa, 24 Juli 2001
  1. Penyampaian hasil kongres kepada audience : tokoh masyarakat LSM dan pemda.
  2. Pertunjukan Seni dan akspresi anak-anak yang lain.
  1. Lelang hasil Karya Anak-anak tentang potret sosial daerah masing-masing
  2. Penutup
  3. Persiapan pemberangkatan delegasi ke Jakarta
  4. Peserta yang tidak terpilih ke Jakarta, pulang ke daerah masing-masing.

REKOMENDASI

  1. Semua pihak, terutama pemerintah (provinsi maupun daerah Kabupaten/ Kota) agar memberikan perhatian yang lebih kepada anak-anak, terutama anak-anak yang mengalami permasalahan khusus dan berada pada situasi khusus.
  2. Menyerukan kepada aparat pemerintah baik di tingkat provinsi maupun daerah (Kota/Kabupaten), dalam memandang dan menangani masalah anak-anak, termasuk anak-anak hidup di jalanan (anak jalanan), dan anak-anak marginal lainnya, agar lebih manusiawi dan mendengarkan suara anak-anak.
  3. Semua pihak, pemerintah bersama DPRD dan masyarakat, agar memperhatikan dan mendengarkan suara anak-anak dan bersama-sama berjuang untuk membebaskan anak-anak dari situasi buruk serta memenuhi hak-hak anak demi menyelamatkan masa depan bangsa.
  4. Menyerukan kepada semua pihak agar mendukung, menyebarluaskan dan berpartisipasi aktif dalam upaya-upaya pemenuhan hak-hak anak.
  5. Mendesak kepada pemerintah provinsi dan pemerintah Kota/ Kabupaten bersama DPRD Provinsi dan DPRD Kota/Kabupaten untuk memfasilitasi terbentuknya parlemen anak atau forum anak di daerah masing-masing.

PENUTUP

Demikian laporan kegiatan Kongres Anak Jawa Timur 2001 dalam rangka memperingati hari Anak Nasional 2001 ini disusun, untuk menghimpun dan mendokumentasikan serta memberikan informasi sebenarnya terjadi pada anak-anak dibalik keceriaannya, khususnya di Jawa Timur, yang masih belum banyak terungkap. Informasi ini selain merupakan dokumentasi otentik refleksi suara anak –yang harus dihargai dan didengar- juga diperuntukkan bagi semua pihak agar memberikan perhatian yang lebih serius  kepada anak-anak, dan yang lebih konkret, tumbuh kesadaran untuk memenuhi hak-hak anak.

Probolinggo, 21 Agustus 2001

Penyusun

Tim Yayasan Wahana

_________

Berlanjut:

Kongres Anak Nasional

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

As you found this post useful...

Follow us on social media!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.