Kongres Anak Indonesia

5
(1)

Kongres Anak Indonesia adalah kongres anak tingkat nasional setelah anak-anak melakukan kongres di daerah masing-masing. Yayasan Wahana, bersama LSM-LSM di wilayah Jawa Timur, mendampingi anak-anak hasil Kongres Anak Jawa Timur ke forum Kongres Anak Indonesia

LAPORAN

KONGRES ANAK INDONESIA 2001

Tim Yayasan Wahana

I.        LATAR BELAKANG

Sebagai negara  anggota PBB, Indonesia telah menyatakan diri sebagai negara pihak (state party) pada Konvensi Hak Anak yang kemudian menjadi Keputusan Presiden No.36 tahun 1990. Dengan demikian, pemerintah Indonesia  terikat pada hukum internasional untuk melakukan langkah-langkah strategis dalam melindungi hak-hak anak tanpa diskriminasi .

Akan tetapi, meskipun telah  meratifikasi Konvensi PBB tentang hak-hak anak, fakta menunjukkan bahwa masih banyak pelanggaran terhadap hak anak di Indonesia. Bahkan telah sampai pada bentuk-bentuk pelanggaran yang tidak dapat ditoleransi oleh akal sehat ( the most intolerable forms ). Lebih – lebih pada masa krisis, kompleksitas perkembangan masyarakat telah memberikan pengaruh buruk terhadap  pengasuhan dan perawatan anak-anak.

Eksploitasi anak secara ekonomi, seksual komersial, kekerasan dan penyalahgunaan  obat terlarang, penelantaran dan bentuk-bentuk pelanggaran hak anak lainnya, semakin meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya. Walaupun berbagai upaya telah dilakukan, akan tetapi perlindungan terhadap  hak anak di Indonesia masih belum juga terpenuhi secara optimal. Kalau kasus pelanggaran terhadap jutaan anak di Indonesia terus dibiarkan, maka bangsa ini akan terancam kehilangan generasi (lost generation).

Potret Anak

Indikasi the lost generation sesungguhnya sudah dapat dirasakan, dengan adanya kasus  anak-anak korban konflik bersenjata dan kasus anak terpaksa mengungsi, banyaknya kasus anak-anak yang terpaksa harus bekerja baik sebagai buruh industri, pertanian, nelayan dan jermal, maupun anak-anak yang terpaksa harus bekerja dijalanan sebagai pengamen, penjual koran, pengemis, bahkan anak-anak yang dilacurkan (ayla) dan dilibatkan dalam perdagangan obat-obat terlarang (NAZA).

Menurut data yang dihimpun oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Agustus 2000, dari Kantor Menko Kesra dari berbagai media massa, saat ini tercatat 639.817 jiwa pengungsi ( internally displaced people ) tersebar di Timor Barat Aceh, Ambon, Maluku Utara, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, yang hidup dalam situasi tak menentu. Dari jumlah total pengungsi, diperkirakan sekitar 150.000 jiwa adalah anak-anak, dengan klasifikasi anak balita dan anak usia 10-12 tahun menderita kekurangan gizi, menderita  sakit, trauma, stress, kehilangan kesempatan untuk belajar, bahkan sebagian anak terpaksa kehilangan keluarga.

Sementara itu, kasus perlakuan salah terhadap anak-anak  jumlahnya kian meningkat. Yang lebih mengenaskan, perlakuan salah baik dalam bentuk kekerasan fisik maupun seksual tidak saja dilakukan oleh orang dewasa di luar lingkungan keluarga anak, tetapi juga dilakukan oleh lingkungan keluarga anak sendiri ( orangtua kandung ). Kasus-kasus perlakuan salah ini tidak hanya terjadi di kota, tetapi juga di desa. Kasus ini sebenarnya yang paling banyak hanya saja tidak begitu tampak seperti kasus-kasus lain, karena sebagian besar dilakukan oleh para orangtua anak dan di Indonesia belum dapat dimasukkan sebagai pelanggaran hukum karena disamping kultur bangsa Indonesia yang sangat apologis dan dianggap tabu mencampuri urusan rumah tangga orang lain, perangkat hukum negara Indonesia belum menyentuh perlindungan hak anak sampai pada kasus-kasus perlakuan salah ( child abuse ) semacam itu. Tindak kekerasan dan perlakuan salah tersebut mengakibatkan banyak anak-anak menderita trauma dan kehilangan masa depannya.

Pada tahun 1999, tercatat kasus tindak kekerasan ( physical abuse ) mirip kasus kematian Ari Hanggara beberapa tahun lalu. Kali ini menimpa Rini (12 tahun ). Ia tewas dihajar botol minuman oleh ibu tirinya. Lalu, pada tahun 2001, kasus kematian seorang PRT anak-anak, Sunarsih, yang ditewas dianiaya majikannya, dsb. Kemudian kasus ribuan anak sekolah yang terlibat aksi tawuran.

Masalah lain dari anak-anak yang cukup serius adalah masalah eksploitasi ekonomi dan seksual komersial. Menurut catatan UNICEF, jumlah anak-anak di negara-negara sedang berkembang yang terpaksa bekerja, ditemukan 250 juta anak-anak usia 5-14 tahun . Enam puluh juta diantaranya bekerja di sektor yang membahayakan jiwa anak-anak ( hazardous work ). Dari 250 juta anak-anak yang tereksploitasi secara ekonomi tersebut, 6,5 juta anak-anak usia 10-14 tahun aktif secara ekonomi terdapat di Indonesia, dan tersebar di berbagai sektor, industri (pabrik), perkebunan, pertanian, perikanan (nelayan dan jermal), pemulung, dan di jalanan. Situasi dan kondisi anak-anak yang terpaksa bekerja pada umumnya mengancam kelangsungan hidup mereka, sebab banyak anak-anak yang ditemukan bekerja pada situasi berbahaya. Selain bekerja menjalankan mesin industri, juga bekerja dengan bahan-bahan kimia beracun, anak-anak yang bekerja di sektor kelautan/ perikanan (anak nelayan dan jermal), yang bekerja mulai dari pekerjaan di laut terbuka melawan keganasan ombak tanpa alat pengaman, yang setiap saat terancam binatang laut berbisa (ular laut, dsb.), terlilit jaring, bahkan dapat dibunuh oleh pencuri ikan ketika anak-anak mengambil ikan di bubu, dsb., sampai pekerjaan di kapal nelayan, bekerja di mesin kapal, pengepel dek, penyortir ikan di kapal, dst., sampai di rumahpun dieksploitasi lagi oleh orangtuanya untuk menjual ikan dari hasil sortiran kapal yang tidak terpakai, bahkan dari hasil curian pada saat bekerja di kapal, mengeringkan ikan, dsb., sebagaimana terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatera Utara. Jumlah  ini dapat bertambah jika dikaitkan dengan 8 juta anak drop out.

Masalah anak-anak korban eksploitasi seksual komersial ( anak dilacurkan, pornografi, serta perdagangan seksual anak), selain jumlahnya semakin meningkat, anak-anak telah berada pada budak seks orang dewasa dan korban penyakit menular seksual. Saat ini diperkirakan terdapat 30% dari jumlah pekerja seks komersial adalah anak-anak usia 14-16 tahun.

Kasus anak kurang gizi ( marasmus kwasiorkor ) juga cukup serius. Menurut data UNICEF, hampir 10 juta anak-anak balita menderita kurang gizi, 2 juta diantaranya menderita gizi buruk. Di Sumatera Barat tercatat 23.000 dari total 300.000 anak balita terancam menderita gizi buruk, di Riau sampai akhir tahun 1999 ditemukan 27.400 anak balita menderita kurang gizi dengan klasifikasi 17.690 menderita Kekurangan Energi Protein (KEP), 4.865 kekurangan KEP sedang, 1.293 balita menderita KEP berat. Kemudian di Pekan Baru 1.000 balita menderita busung lapar. Demikian juga di NTB, NTT, Jawa Timur, yang ditambahi pula dengan kasus anak-anak yang berada di lokasi pengungsian. Sampai tahun 1999, Jawa Barat menduduki peringkat teratas untuk balita kurang gizi. Di Sulawesi Selatan (12.000 anak balita ) dan Kalimantan Selatan ( 8.234 balita ) kekurangan gizi akut.

Disamping itu, menurut data Komnas PA yang dikumpulkan dari berbagai sumber, di Indonesia saat ini diperkirakan terdapat 1,3 juta orang pemakai narkoba dan zat adiktif lainnya (NAZA). Dari jumlah tersebut, 300.000 berada di DKI Jakarta, sedangkan 20% dari 300.000 tersebut adalah anak-anak usia sekolah, positif pemakai NAZA. Disinyalir bahwa saat ini banyak anak sekolah tidak lagi aman dari bahaya jaringan NAZA.

Partisipasi Anak

“Negara-negara peserta akan menjamin hak anak yang berkemampuan untuk menyatakan secara bebas pandangannya sendiri mengenai semua hal yang menyangkut anak itu, dengan diberikannya bobot yang layak pada pandangan-pandangan anak yang mempunyai nilai sesuai dengan usia dan kematangan dari anak yang bersangkutan.” (Konvensi Hak Anak, pasal 12 ayat 1)

Hak anak untuk berpartisipasi merupakan hak fundamental yang patut dihormati, dilaksanakan dan dipenuhi oleh negara yang meratifikasi Konvenan tersebut, termasuk Indonesia dengan Kepres no. 36 tahun 1990. Kurun waktu sepuluh tahun telah membawa catatan-catatan penting bagi Indonesia dalam upaya pemenuhan hak anak yang tertuang dalam Periodic Report on CRC Implementation, End Decade Review dan puncaknya adalah World Summit for Children yang diselenggarakan pada bulan September di New York, Amerika Serikat

Justru pelanggaran terbesar adalah tidak terpenuhinya hak partisipasi anak oleh orang dewasa dalam masyarakat kita. Anak-anak tidak dihargai, dianggap tidak berarti, tidak mengerti apa-apa serta dianggap tidak ada. Suara anak-anak samasekali tidak didengar karena mereka dianggap sosok kecil yang tidak tahu apa-apa. Justru inilah suatu pelanggaran yang dapat menyebabkan hantaman  terbesar bagi proses tumbuh kembang anak secara psikologis / emosional/ sosial. Munculnya generasi yang tidak percaya diri, tidak punya rasa tanggungjawab, dsb., berawal dari masyarakat berbudaya menyepelekan dan tidak menghargai serta tidak mendengar suara anak-anak. Untuk mendukung tumbuhkembangnya secara emosional/ psikologis dan sosial, sangat diperlukan pengikutsertaan/ partisipasi anak, dan itu harus dimulai sejak dini dimulai dengan mendengarkan suara mereka.

Dalam rangka mewujudkan partisipasi anak tersebut diperlukan forum anak untuk mendiskusikan kesulitan-kesulitannya dan merekomendasikan kepada keluarga, masyarakat, pemerintah termasuk legislatif dan yudikatif. Untuk mengimplementasikan hak partisipasi tersebut, maka diperlukan forum anak baik pada tingkat daerah maupun nasional. Di tingkat nasional diwujudkan dalam bentuk Kongres Anak Indonesia 2001 sebagai lanjutan mandat dari Kongres Anak  Indonesia 2000.

II.      TUJUAN

Tujuan dari Kongres Anak Indonesia 2001 adalah sebagai berikut :

  1. Terwujudnya partisipasi anak dalam merumuskan pandangan anak terhadap kesulitan dan permasalahan yang dihadapi anak.
  2. Terfasilitasinya anak baik mulai dari tingkat kabupaten/kota sampai tingkat nasional untuk memberikan masukan-masukan yang menyangkut diri anak kepada DPR Pusat dan Daerah serta Pemerintah.

III.    OUTPUT

Output dari Kongres Anak Indonesia 2001 adalah  :

  1. Terumuskannya pendapat dan pandangan 300 anak dari masing-masing propinsi untuk diserahkan kepada pemerintah dan legislatif.
  2. Rekomendasi / Agenda Prioritas Suara Hati Nurani Anak Indonesia untuk disampaikan kepada pemerintah dan DPR.
  3. Dalam setiap pengambilan keputusan atau kebijakan menyangkut diri dan kepentingan anak, pemerintah maupun DPR  agar bersungguh-sungguh mendengar suara dan pandangan anak.
  4. Terbentuknya parlemen anak di tiap-tiap kabupaten/kota dan propinsi.
  5. Anak-anak memiliki peran aktif dalam pembangunan daerah.

IV.     TEMA

“DENGAR SUARA KAMI”

Sub –Tema   : “Mari Hidup Bersama dalam Perbedaan”.

V.       WAKTU DAN TEMPAT

Kongres Anak Indonesia 2001 diselenggarakan pada tanggal 26 Juli – 2 Agustus 2001 di ASRAMA HAJI, Jl. Raya Pondok Gede, Jakarta Timur 13560, Telp. (021) 800 9421 – 800 9429 – 808 83155. Fax : (021 ) 800 3383.

VI.     PESERTA

  1. Jumlah peserta Kongres Anak Indonesia 2001 adalah 300 anak ( berasal dari 30 provinsi masing-masing 10 anak).
  • Kriteria peserta adalah sebagai berikut :
  • Anak berusia antara 10 – 17 tahun
  • Utusan dari masing-masing Propinsi yang dipilih dan ditetapkan melalui Forum Anak Daerah (FORDA)
  • Membawa Rekomendasi atas kesuluitan-kesulitan anak di daerah yang ditetapkan melalui Forum Anak.
  • Perwakilan Anak dalam Kongres Anak Indonesia 2001 :
  • Mewakili profile dan permasalahan anak di masing-masing daerah.
  • Mempertimbangkan keseimbangan gender.
  • Berusia antara 10 – 17 tahun.
  • Tiap daerah Propinsi maksimal mengirimkan 10 orang anak.
  • Membawa hasil Rekomendasi persoalan anak di masing-masing daerah untuk dipresentasikan dalam Kongres Anak Indonesia.
  • Menyampaikan aspirasinya secara jelas, memberikan ide, masukan dan suaranya ke dalam Kongres.
  • Menyampaikan hasil-hasil Kongres kepada  komunitasnya di daerah asal.
  • Perwakilan dari LSM/NGO maupun pemerintah dari 30 provinsi se-Indonesia sebagai pendamping ( bukan peserta ).

VII.  PELAKSANA DAN DASAR PENYELENGGARAAN KEGIATAN

Pelaksana :

Pelaksana / penyelenggara Kongres Anak Indonesia 2001 adalah Komisi Nasional Perlindungan Anak ( Komnas PA ) bersama Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat, termasuk LSM Internasional. Susunan kepanitiaan sebagaimana terlampir ( Lampiran 1 )

Dasar Penyelenggaraan Kegiatan :

Surat Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan No. 22/KEP/MENEG-PP/DEP-IV/6/2001 Tentang Panitia Penyelenggara Nasional Hari Anak Nasional Tahun 2001. ( Lampiran 1 )

VIII.    SUMBER PEMBIAYAAN

Dengan pertimbangan kondisi yang sedang terjadi, maka pembiayaan untuk kegiatan Kongres Anak Indonesia dititikberatkan pada dukungan dan peran aktif masyarakat (LSM), khususnya masyarakat yang mampu, sektor usaha, Lembaga-lembaga PBB Urusan Anak-anak (UNICEF) dan LSM Internasional (PLAN International, WAHANA Visi Indonesia, Save the Children USA/UK, CCF)

IX.    KEGIATAN DAN METODOLOGI

Kongres Anak Indonesia 2001 ( KAI 2001 ) ini adalah Kongres Anak Indonesia yang ke-2 (Kongres I diselenggarakan di Cibubur, Jakarta Timur, pada tanggal 20-24 Juli 2000), merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan dalam memperingati Hari Anak Nasional 2001 yang dilaksanakan serentak di seluruh wilayah Indonesia. KAI 2001 didahului oleh kegiatan Kongres Anak Daerah 2001 yang merupakan Forum Anak Daerah, diselenggarakan  di masing-masing ibukota provinsi.

Dalam Kongres Anak Indonesia 2001 ini diselengarakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan peran aktif anak-anak, yakni :

  1. Pelatihan untuk Pelatih ( Training of Trainer/ TOT ) bagi Fasilitator Anak.

Tujuan :

  1. Membangun kapasitas anak-anak/ pemimpin muda dalam memfasilitasi sebuah pertemuan.
  2. Mengembnagkan pemahaman anak tentang kepemimpinan, hak anak dan konsep-konsep yang relevan.
  3. Menyediakan kesempatan pada anak untuk mempraktekkan pengalaman kepemimpinan.
  4. Mengembangkan kerjasama (networking) diantara anak-anak

Hasil kegiatan :

  1. Sebanyak 40 anak telah memiliki ketrampilan fasilitasi.
  2. Sebanyak 25 anak dari 40 peserta siap menjadi fasilitator dalam Kongres Anak Indonesia 2001 (KAI 2001).
  3. Sebanyak 15 anak siap menjadi panitia pelaksana dalam KAI 2001.

Materi TOT :

  1. P4T (Perkenalan, Pencairan Suasana, Pengorganisasian Peserta dan Tata Tertib).
  2. Hidupku Sebagai Anak Indonesia.
  3. Permasalahan Anak-anak di Indonesia.
  4. Konvensi Hak Anak.
  5. Pemahaman Definisi Partisipasi Anak.
  6. Kepemimpinan.
  7. Komunikasi.
  8. Bekerja Dalam Tim.
  9. Ketrampilan Fasilitasi.
Tim Fasilitator Pelatihan

Penanggungjawab pelaksanaan TOT adalah Yayasan BMS. Tim fasilitator merupakan gabungan dari tim dewasa dengan tim anak-anak, yaitu anak-anak yang pada KAI 2000 telah menjadi fasilitator (tim dewasa dan anak-anak berbagi peran). Pada KAI 2001, tim dewasa bertindak hanya sebagai pendamping fasilitator anak-anak saja.

Metodologi TOT :

Pelatihan dilakukan dengan permainan-permainan, agar anak-anak tidak bosan dan pelatihan berjalan efektif. Metodologi yang digunakan adalah dengan pendekatan bermain dan teater serta merangsang partisipasi anak, seperti : menggambar, curah pendapat, permainan peran, presentasi kreatif, teater anak, diskusi panel, dan life-map.

  • Kunjungan dan Studi Lapangan

Sebelum acara (forum) kongres dilakukan, para peserta berkunjung ke 15 wilayah permasalahan anak yang berada di wilayah Jakarta. Kegiatan ini dimakudkan untuk memberikan gambaran permasalahan anak-anak yang berguna untuk menambah wawasan dan pengalaman, disamping permasalahan anak-anak di daerah asalnya. Selain itu juga sebagai tambahan pengetahuan bahwa permasalahan anak-anak sebenarnya tidak hanya terjadi di daerah asal mereka sendiri, tetapi juga merata di mana-mana, sehingga timbul pemahaman dalam diri anak-anak, bahw amasalah anak-anak ini bukanlah masalah lokal, tetapi masalah nasional, masalah bagi semua. Kegiatan ini dapat dijadikan sebagai tambahan referensi bagi anak-anak dalam berkongres untuk menghasilkan rumusan rekomendasi yang sesuai.

Kunjungan Lapangan dibagi dalam 5 kelompok dari 10 issue yang dihadapi anak-anak di Jabotabek.

No.KelompokPenanggungjawabKegiatan
1.aAnak dan Lingkungan (Observasi air, flora dan fauna)PLAN InternationalMenyusuri Kali Ciliwung bersama Menteri Lingkungan Hidup.
1.bAnak dan IndustriYay. Kompak IndonesiaBerkunjung ke Pabrik Biskuit dan berdialog dengan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
1.cAnak dan Masyarakat Miskin PerkotaanSakinah MuhammadiyahBerkunjung dan berdialog langsung dengan masyarakat yang tinggal di Pedongkelan, Jakarta Utara.
2.aAnak dan PendidikanYayasan Gema Mandiri BangsaBerdialog dengan siswa yang bangunannya roboh di Bekasi, anggota DPRD Bekasi; dan berkunjung ke sekolah yang bangunannya bagus di Blobal Jaya Bintaro, Jakarta.
2.bAnak dan MediaKomnas PABerkunjung dan berdialog dengan para kru serta mengamati proses pembuatan program televisi swsta, Indosiar.
3.Anak dan HIV/AIDS, NAZAYayasan Pelita IlmuBerkunjung ke rumah gaul YPI Tangerang dan berkonsultasi dengan para konselor.
4.aAnak dan Penegak HukumPLAN InternationalBerkunjung dan berdialog dengan anak-anak dan petugas di Lembaga Pemasyarakatan Anak Tangerang.Berkunjung dan berdialog dengan Polres Tangerang.
4.bAnak dan Hak Asasi ManusiaKomnas PABerkunjung dan berdialog dengan anggota Komnas HAM dan Komnas Perempuan
5.aAnak dan PengungsiYayasan BMSBerkunjung dan berdialog dengan para pengungsi di tempat penampungan pengungsi di Jakarta.
5.bAnak dan Pelayanan untuk Anak CacatYayasan Rawinala JakartaBerkunjung dan berdialog dengan anak dan pembina di Yay. Rawinala.
C.    Pembukaan Kongres Anak Indonesia 2001

Pembukaan Kongres Anak Indonesia 2001 yang rencananya akan dibuka oleh Wakil Presiden Ibu Megawati Soekarnoputri, karena beliau pada saat berlangsungnya Kongres ini sedang berada di Sulawesi untuk lawatan kepresidenannya (pada saat berlangsungnya perjuangan anak-anak  untuk memperjuangkan hak-haknya dalam Kongres Anak Indonesia 2001 ini, sedang terjadi pula sebuah moment politik bagi bangsa Indonesia, yakni Wapres Megawati dinobatkan menjadi Presiden RI ke-4 menggantikan Gusdur  yang diturunkan MPR melalui mekanisme Sidang Istimewa/ SI.), maka sebagai penggantinya, Kongres Anak Indonesia 2001 dibuka oleh Wakil Ketua DPR-RI, Tosari Wijaya, sekaligus berdialog dengan anak-anak peserta KAI 2001.

  • Forum Kongres Anak Indonesia 2001

Kongres Anak Indonesia 2001 dibuka oleh Ibu Marni Dawam Rahardjo, Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Diawali dengan kata pengantar oleh Fajar Nurdin Latief (Yayasan KAKI) selaku Ketua Panitia Pelaksana, dan Ariest Merdeka Sirait (Komnas Perlindungan Anak). Setelah Ibu Marni menabuh genderang pertanda pembukaan resmi, dimulailah acara dari pembukaan hingga penutupan, yang memakan waktu 4 hari.

Adapun rangkaian kegiatan Kongres mulai hari pertama hingga hari terakhir, sebagaimana paparan berikut.

1. P4T ( Perkenalan, Pembentukan Suasana, Pengorganisasian Peserta dan Tata Tertib )

Kongres dimulai dengan session P4T, yaitu proses perkenalan menggunakan media permainan “bentuk kelompok”  dan “ZIP-ZAP”. Dimaksudkan agar antara anak-anak peserta kongres dari berbagai propinsi dapat saling mengenal dan tercipta kekraban diantara mereka. Selain itu, kedua permainan ini juga membuat suasana menjadi meriah dan gembira.

Setelah acara permainan selesai, dilanjutkan dengan pengorganisasian peserta. Dalam  prosesnya, fasilitator meminta peserta untuk memilih ketua dan wakil ketua, dengan fungsi untuk mengorganisir dan memimpin peserta untuk menyusun kesepakatan-kesepakatan. Pemilihan ketua dan wakil ketua ini berlangsung secara demokratis yakni diajukan langsung oleh para peserta dan selanjutnya dipilih berdasar suara mayoritas ( voting ). Untuk mendukung ketertiban dan kelancaran acara, diberlakukan tatatertib bagi peserta yang disampaikan oleh para fasilitator, antara lain : peserta harus tepat waktu, aktif dalam proses diskusi, dilarang merokok di dalam ruang diskusi, dan jadual masuk serta jadual berakhirnya kegiatan. Pada akhir session fasilitator meminta agar tatatertib yang telah disampaikan ditaati oleh seluruh peserta termasuk fasilitator.

2.  Diskusi  Kelompok Kecil (Pokcil) : Pandangan Anak tentang Pendidikan Anak.

Diskusi Kelompok Kecil (Pokcil) untuk membahas Pandangan Anak tentang Pendidikan Anak :

  1. Diskusi Pokcil kelompok A ( kelompok pekerja anak dan anak jalanan )
  2. Diskusi Pokcil kelompok B ( kelompok anak penyandang cacat/ penca )
  3. Diskusi Pokcil kelompok C ( kelompok anak pengungsi )
  4. Diskusi Pokcil kelompok D (kelompok anak yang terkena NAZA dan HIV/AIDS)
  5. Diskusi Pokcil kelompok E ( kelompok Pekerja Seks Komersial Anak )
  6. Diskusi Pokcil kelompok F ( kelompok anak umum )

Dalam prosesnya, kelompok A dan F dibagi ke dalam 4 pokcilcil (kelompok kecil-kecil), dengan pembagian tugas :

  • Pokcilcil 1 membahas pendidikan anak di lingkungan keluarga.
  • Pokcilcil 2 membahas pendidikan anak di lingkungan sekolah.
  • Pokcilcil 3 membahas pendidikan anak di lingkungan masyarakat.
  • Pokcilcil 4 membahas pendidikan anak di lingkungan negara.

Kelompok B dan C tidak dibagi ke dalam pokcilcil, tetapi dalam prosesnya fasilitator mengajak peserta membahas :

  • Poster 1 : “Hukuman Bagi Anak Yang Bandel” untuk tema Pendidikan Anak di Lingkungan Keluarga.
  • Poster 2 : “Diam Kamu Anak Bodoh!” untuk tema Pendidikan Anak di Lingkungan Sekolah.
  • Poster 3 : “Inikah Anak Modern?” untuk tema Pendidikan Anak di Lingkungan Masyarakat.
  • Poster 4 : “Ayo Sekolah” untuk tema Pendidikan Anak di Lingkungan Negara.

Untuk meluruskan jalannya diskusi yang seringkali bertele-tele, misalnya pada saat terdapat kesulitan menggali informasi dari berbagai masalah dalam kelompok, maka fasilitator dewasa mendampingi fasilitator anak dan menjelaskan maksud dan penyampaian yang jelas dan tepat dalam bahasa anak-anak.

Sedangkan untuk memfasilitasi diskusi kelompok A, B, C dan F, tim fasilitator anak dibagi ke dalam beberapa tim, dengan pembagian tugas sebagai berikut :

  1. Fasilitator yang memandu kelompok besar.
  2. Fasilitator yang memandu diskusi di pokcilcil.
  3. Fasilitator yang membantu menyiapkan peralatan dan media.
  4. Fasilitator yang memimpin permainan dan lagu.

Proses diskusi dari 4 kelompok mengenai Pandangan anak tentang pendidikan anak di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan negara ini secara rinci direkam oleh perekam proses ( panitia dewasa ). Karena masing-masing pokcil didampingi oleh para tim perekam proses, maka semua isu, suara maupun apa yang dibahas oleh masing-masing anak yang ada di kelompoknya tetap dapat terekam, tanpa ditambah, dikurangi maupun direkayasa.

3.   Presentasi Hasil Diskusi ( Diskusi Kelompok Besar/ Poksar ).

Presentasi hasil diskusi ke-4 pokcil ( A, B, C dan F ) ke dalam poksar untuk tema pendidikan anak di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan negara dilaksanakan pada malam harinya. Masing-masing pokcil ( A, B, C dan F ) yang diwakili oleh presenter (anak) menyajikan hasil kesimpulan diskusi kelompoknya. Selanjutnya fasilitator yang memimpin diskusi poksar memberikan waktu bagi anak-anak lain untuk menanggapi ( bertanya, memberi usulan, masukan, sanggahan, dsb. ).

Dalam proses tanya jawab, terjadi debat dan muncul pertanyaan-pertanyaan yang membuat diskusi menjadi hidup dan bersemangat. Berbagai isu dilontarkan anak-anak, mulai dari isu narkoba yang menjadi masalah serius (trend) dikalangan pelajar maupun anak-anak lainnya, masalah teknis diskusi, sampai dengan pasal-pasal yang ada dalam KHA (Konvensi Hak Anak) yang menyangkut tentang perlindungan anak.

  • Diskusi Kelompok Kecil ( Pokcil ) : Pandangan Anak Terhadap Perlindungan Anak.

Diskusi pokcil A, B, C dan F mengenai Pandangan Aanak Tentang Perlindungan Anak di Lingkungan Keluarga, sekolah, masyarakat dan negara berlangsung pada hari kedua. Prosesnya pada dasarnya sama dengan diskusi pokcil untuk pendidikan anak, hanya saja untuk tema ini, sebelumnya fasilitator membuka acara dengan permainan “Angin Bertiup” untuk menyegarkan suasana, dan dilanjutkan dengan menyanyi bersama lagu “Ayah, Aku Cacat”. Setelah itu, peserta dibagi ke dalam 4 pokcil untuk membahas 4 poster :

  • Poster 1 : “Nasibku Yang Malang” untuk tema Perlindungan Anak di Lingkungan Keluarga.
  • Poster 2 : “Tawuran Pelajar” untuk tema Perlindungan Anak di Lingkungan Sekolah.
  • Poster 3 : “Mencari Makan di Pinggir Jalan” untuk tema Perlindungan Anak di Lingkungan Masyarakat.
  • Poster 4 : “Anak Pengungsi” untuk tema Perlindungan Anak di Lingkungan Negara.

Dalam prosesnya, diskusi pokcil untuk tema perlindungan anak ini berjalan seru, karena membahas “anak tawuran” dan “inikah anak modern?” yang memicu dan memunculkan berbagai pandangan, kritikan, polemik diantara anak-anak. Anak-anak mengungkapkan berbagai kenyataan permasalahan-permasalahan yang mereka alami sendiri, dan dipadukan dengan anak-anak yang tidak mengalami sendiri, namun juga dekat dengan permasalahan-permasalahan tersebut. Dinamika proses diskusi sangat menonjol di kelompok A ( pekerja anak dan anak jalanan ) untuk tema narkoba (NAZA), yang menampilkan pengalaman nyata anak-anak  yang sudah pernah dan akrab dengan “nge-rokok, ngelem, nyimeng”  dan penyalahgunaan NAZA yang lainnya. Dari pengalaman tersebut, ada sebagian yang sudah insyaf dan sebagian lagi masih belum bisa meninggalkan rokok atau obat-obatan psikotropika tertentu.

Khusus untuk kelompok A dan F, setelah proses diskusi di pokcilcil selesai, dilanjutkan dengan presentasi di tingkat pokcil untuk mendapatkan masukan tambahan, usulan dan suara dari seluruh peserta pokcil. Hasil kesimpulan pokcil kemudian dimasukkan ke dalam matriks yang sudah disiapkan oleh tim fasilitator.

  • Presentasi Hasil Diskusi ( Kelompok Besar / Poksar )

Pada dasarnya, prosesnya sama dengan presentasi hasil diskusi pada tema pendidikan anak, tetapi pada tema ini, yang menarik, partisipasi peserta lebih tampak merata. Jika pada diskusi poksar sebelumnya yang lebih aktif cenderung anak-anak (peserta) dari yayasan tertentu, maka pada poksar ini hampir seluruh peserta tampak antusias dan lebih giat dan bersemangat, karena temanya lebih menarik perhatian anak-anak.

  • Penyerahan Hasil Kongres Anak Indonesia 2001

Rekomendasi dari hasil Kongres Anak, kemudian disampaikan kepada DPR-RI dan Pemerintah untuk ditindaklanjuti. Acara penyerahan hasil Kongres Anak berlangsung di Gedung DPR-RI. Seluruh peserta Kongres Anak dan pendamping, berkumpul di ruangan sidang utama DPR-RI, senayan, dan diterima oleh Wakil Ketua DPR-RI, Tosari Wijaya dan

Rekomendasi Kongres disampaikan oleh perwakilan anak-anak, yang sebelumnya didahului oleh “pembukaan” oleh anak-anak dengan menyanyikan “lagu kebangsaan anak-anak Indonesia”, yakni “Lagu KHA dengan tepuk KHA”, meneriakkan yel-yel KHA dan penyampaian pendapat secara spontan oleh anak-anak.

Acara penyampaian rekomendasi ini dipandu oleh Ariest Merdeka Sirait dari Komnas PA, berlangsung mengharukan karena disinilah sebenarnya permasalahan anak-anak Indonesia dapat digali dan diangkat. Setelah pembacaan rekomendasi selesai, dilanjutkan dengan acara dialog/ tanya-jawab antara anak-anak dengan DPR. Hasil akhir dari forum dialog di ruang sidang utama DPR-RI ini adalah adanya permintaan dan desakan dari peserta kongres kepada DPR-RI untuk segera mengesahkan RUU Perlindungan Anak dan segera dibentuknya Kementerian Khusus untuk Perlindungan Anak.

Usai berdialog di ruang sidang utama DPR-RI, seluruh peserta berkunjung ke ruang sidang utama MPR-RI untuk melihat dari dekat ruangan perjuangan wakil rakyat itu. Sebenarnya direncanakan untuk berdialog dengan Ketua MPR-RI, Amin Rais, tetapi beliau tidak dapat dihubungi. Akhirnya peserta hanya melihat-lihat ruangan dalam sambil duduk-duduk di kursi para wakil rakyat itu sembari berkhayal, berfoto bersama dan sekonyong-konyong ada seorang bocah kecil yang tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dan melakukan gerakan seperti orang sedang sujud syukur.

  • Konferensi Pers Anak

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mempublikasikan hasil Kongres Anak, dilakukan oleh anak-anak setelah penyerahan hasil Kongres Anak kepada pemerintah dan DPR-RI. Konferensi pers ini dilakukan di ruang sidang utama DPR-RI.

  • Hiburan

Sebagai upaya untuk mewujudkan dan memenuhi hak anak dalam mengisi waktu luang, bermain dan berekspresi, dalam Kongres Anak Indonesia 2001 ini diadakan Malam Kreativitas, Malam Seni – Budaya dan Malam Solidaritas di antara anak-anak. Pada kesempatan tersebut, anak-anak mempergunakannya sebagai ajang kreativitas untuk mengekspresikan kemampuannya. Misalnya peserta dari Kalimantan Selatan menampilkan Tari Gantar, Kalbar dengan vocal groupnya, NTB menampilkan vocal group dengan tampilan khas tenun Sasak dan rumbai peraknya, Irian / Papua dengan busana khas dan burung cenderawasihnya yang menghiasi kepalanya mengiringi dendang acapella-nya dengan bahasa daerah Papua. Sementara itu Palembang menampilkan tarian silatnya dengan saltonya, Jawa Barat dan Betawi dengan goyang Jaipongnya, Jawa Timur melantunkan “Surabaya” dan “Rek Ayo Rek”-nya, Yang membuat menarik sekaligus lucu, tatkala si none Banten dan mojang Priangan mulai goyang jaipong, serta merta berduyun-duyun anak-anak tidak hanya dari Jawa Barat yang ikut partisipasi jaipongan, anak-anak dari NTB dengan busana khasnya juga ikut ngibing. Tak ketinggalan Yogyakarta memamerkan kelembutannya dengan tari Srimpi. Sedangkan peserta dari Jambi tampil dengan gitar akustiknya, DKI Jakarta membawakan pantomim dengan cukup apik, dsb.

Pada setiap acara malam kreativitas ini yang berlangsung setiap malam, selalu hadir pemerhati anak-anak Indonesia, yang juga Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak dan Konsultan di berbagai lembaga untuk Perlindungan Anak, DR. Seto Mulyadi ( Kak Seto). Kak Seto didampingi Kak Henny dengan sabar dan setia, dengan senyum khasnya selalu menemani anak-anak, dan anak-anak pun menggunakan kesempatan ini untuk bermain, berdialog, ngobrol, dan foto bersama dengan Bapaknya si-Komo ini. Tak ketinggalan, kakak-kakak pendamping, terutama dari luar Jakarta, menggunakan kesempatan baik itu, juga sambil curi-curi kesempatan untuk berkonsultasi gratis dengan konsultan perlindungan dan pengembangan anak itu.

  • Bermain dalam KUIS SIAPA BERANI

Program KUIS SIAPA BERANI telah menyetujui untuk menerima peserta KAI 2001 untuk menjadi peserta kuis dan disiarkan langsung pada hari Selasa, 31 Juli 2001. Seratus (100) anak dari 300 anak peserta KAI 2001 dibagi menjadi menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok 20 anak. Pembagian kelompok didasarkan pada pulau-pulau di Indonesia : Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua. Sedangkan anak-anak dari masing-masing kelompok mewakili propinsinya masing-masing.

Kuis yang dipandu oleh Helmi Yahya dan Alya Rohali ini menjadi sebuah acara yang sangat menarik dan unik. Baru kali ini kuis tersebut mendapat “tamu istimewa” anak-anak jalanan, anak sekolahan dan anak-anak pekerja, buruh, dsb. Yang menarik, salah satu peserta yang berhasil lolos dalam babak final, setelah bersaing ketat dengan rekan-rekannya yang lain, adalah seorang anak jalanan pengamen sekaligus penjual koran yang samasekali asing dengan dunia sekolahan (asal Surabaya, Jawa Timur). Kontan saja anak tersebut menjadi “bintang” kuis. Karena jeniusnya kah? Ah, tidak. Dia ternyata hanya bermodal nekat (bonek) saja. Setiap pertanyaan untuk peserta, dengan sigap ia langsung pencet tombol bel saja. Setelah ditanya, dijawab sekenanya. Mujur, pertanyaan yang jawabannya (kebetulan) benar, dia dapat nilai, selebihnya dia hanya cengar-cengir  saja. Paling tidak, keberanian anak-anak pekerja yang patut ditiru oleh anak-anak sekolahan yang kebanyakan malah takut-takut menjawab.

Setelah beradu ketangkasan dalam kuis tersebut, pemenangnya adalah peserta (perempuan) dari Bondowoso, Jawa Timur.

  1. Kunjungan ke Stasiun Televisi Swasta Indosiar

Setelah bermain kuis, anak-anak menjadi tamu istimewa Indosiar, dan diajak berkeliling menyaksikan dari dekat proses pembuatan program acara, mulai dari kesibukan para kru televisi, sampai program tersebut siap ditayangkan. Kegiatan ini diharapkan bisa memberi inspirasi, wawasan dan pengalaman baru buat anak-anak.

  • Penutupan

Acara penutupan dilangsungkan di Dunia Fantasi ( Dufan ) Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Diawali dengan “upacara penutupan” sebentar, kemudian dilanjutkan dengan bermain sepuasnya di Dufan.

  • Ayo Pulang

Setelah seminggu anak-anak berkongres, bermain, berwisata, berkunjung ke tempat-tempat penting, berpartisipasi dalam Kuis Siapa Berani bersama Kak Helmi Yahya dan kak Alya Rohali ( nongol di TV dan disaksikan oleh jutaan orang, termasuk orangtua, teman-teman dan guru-gurunya ), berinteraksi dan bersukaria, maka telah tiba saatnya untuk kembali ke kampung halaman, kembali ke tempatnya masing-masing. Melanjutkan sekolah, baik di dalam sekolah maupun yang di luar sekolah, melanjutkan mencari ikan, menusuk tembakau,  jualan koran,  mengamen, menemui kembali para pelanggan (orang dewasa) hidung-belangnya, yang notabene yang menjadikan mereka terlempar dan terpuruk di jalanan.

Sambil berangan-angan apa yang akan mereka sampaikan kepada handai tolan, teman-teman dan koleganya, bahwa ia telah berjuang untuk kaumnya, ia telah semakin tahu dan paham akan KHA, ia telah tahu suasana sejawatnya di daerah lain, di Jakarta, mejeng di TV. Ia akan bercerita perihal Monas yang agung jangkung dan tampak sombong menjulang tinggi, dan ia telah pernah menggapai puncaknya. Mereka  akan pulang dengan segudang cerita, bak pahlawan yang menang perang, mereka akan membayangkan betapa teman-teman kecilnya akan terperangah dan manggut-manggut mendengar penjelasan-penjelasan seputar KHA yang harus mereka peroleh dari sistem masyarakat yang diciptakan oleh orang dewasa yang selama ini belum berpihak kepadanya.

Mereka akan pulang sebagai pelopor kaumnya, anak-anak malang, sekaligus  membayangkan tangan besi sang mandor dan juragan yang setiap saat bisa menggamparnya, tangan bapaknya yang setiap detik mengancam kepalanya dan juga mengancam kegadisannya, bentakan preman jalanan yang mengancam jiwanya serta bentakan Pak Polisi yang setiap waktu menciutkan nyalinya dan sekaligus memelorotkan celananya dengan tak kalah sadisnya.

Sebelum acara ayo pulang, malam harinya diadakan malam perpisahan. Seluruh peserta dan pendamping saling mengungkapkan dan menumpahkan perasaannya. Mereka menyanyikan lagu, bersalaman, saling memberi pesan, berangkulan. Jabat erat tangan dan pelukan serta derai tangis menyelimuti acara yang berlangsung diantara anak-anak ditengah-tengah bangsa yang sedang terkoyak ini. Mereka menyiratkan dan saling menorehkan guratan-guratan persatuan dan persaudaraan diantara mereka. “Kapan kita bisa bertemu lagi dan menikmati saat-saat bersama yang indah seperti ini?” Jangan lupakan aku yaa.. kita ketemu lagi esok.. sampaikan salamku pada saudara-saudara di tempatmu.. dsb. Adalah sepenggal ungkapan diantara jutaan untaian kata dan perasaan satu saudara. Anak-anak ini tahu arti persaudaraan sebangsa setanah air. Kembali mereka saling bersalaman, berpelukan, bercucuran air mata tulus polos khas dunia anak-anak. Sampai ketemu lagi pada Kongres Anak Indonesia III Tahun 2002 di Bali.

X.      KESIMPULAN HASIL DAN REKOMENDASI

Dari seluruh rangkaian proses kongres ini terlihat anak-anak ternyata mampu menyuarakan pandangannya, kritikannya, dan keinginannya berkaitan dengan masalah pendidikan, baik di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun negara. Sekaligus juga membuktikan bahwa anak-anak pun mampu menjadi fasilitator bagi teman-temannya.

Selanjutnya, rekomendasi yang telah dihasilkan dari Kongres Anak Indonesia 2001 selengkapnya terdapat pada Lampiran I dalam laporan ini.

XI.    PENUTUP

Demikian Laporan Kongres Anak Indonesia 2001 ini disusun berdasarkan rekaman dan catatan selama mengikuti sebagai pendamping. Laporan ini secara internal ( Yayasan yang berpartisipasi dalam Jaringan Perlindungan Anak dan Kongres Anak Indonesia ) adalah dokumentasi catatan bersejarah bagi anak-anak Indonesia yang Insya Allah berguna bagi lembaga atau perorangan yang peduli pada permasalahan anak. Dan secara eksternal dapat merupakan informasi yang dapat menambah perbendaharaan dan wacana dalam upaya pembinaan, pengembangan dan perlindungan anak-anak Indonesia.

Akhirnya, semoga dokumentasi laporan ini dapat bermanfaat, utamanya dan khususnya bagi perjuangan untuk pemenuhan hak-hak anak. Juga perjuangan untuk menegakkan demokrasi dan good and reformed governance pada umumnya, karena perjuangan menegakkan demokrasi dan good and reformed governance  akan sia-sia tanpa ada “pewarisan” hasil kepada generasi penerus bangsa, yaitu anak-anak. Yakni anak-anak yang mendapatkan hak pengasuhan dan pendidikan serta perlakuan yang baik dan mendorong tumbuhkembangnya agar dapat meneruskan perjuangan orang dewasa pada masa kini.

Karenanya, sangat perlu diciptakan ruang hidup yang kondusif bagi tumbuhkembang anak-anak Indonesia, termasuk hak partisipatif bagi anak-anak, sehingga terbuka akses yang seluas-luasnya kepada anak-anak untuk membicarakan dirinya. Dan hasil-hasil Kongres yang buah karya anak-anak Indonesia tersebut diatas agar dapatnya dijadikan bahan rujukan dan teladan oleh semua pihak, khususnya keluarga, masyarakat, pemerintah sebagai acuan dalam rangka pengambilan kebijakan tentang perlindungan anak. “Dengarlah Suara Kami! Perbedaan bukan untuk memisahkan !”

Probolinggo, 27 Agustus 2001

Penyusun

Tim Yayasan Wahana

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

As you found this post useful...

Follow us on social media!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.