Partisipasi Politik Anak Milenial

0
(0)

Yayasan Wahana juga menaruh minat pada isu politik. Karena politik menentukan nasib rakyat! Segala jenis upaya pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan sebagainya, berurusan dengan keputusan dan kebijakan politik. Negara pula urusannya. Di sinilah pentingnya politik. Masyarakat, kaum muda, kaum milenial, wajib melek politik, paham politik.

Politik bukan sekedar urusan lima tahunan, ada orang bagi-bagi uang, kaos, minat dukungan, minta dicoblos, dsb. Politik urusannya adalah mengatur negara, mengatur nasib masyarakat, mengatur nasib generasi muda, dari penyediaan fasilitas dan sumberdaya, yang dikelola oleh negara, atas nama rakyat. Nah, ini yang harus dipahami.

Andakah kaum milenial itu? Peran dan partisipasi politik kaum milenial, generasi Z, Gen Z, dalam kehidupan demokrasi di Indonesia sangat penting. Jumlah pemilih milenial mencapai 70 – 80 juta dari 193 juta pemilih pemilu 2019 atau sekitar 40% (data KPU). Jumlah yang signifikan.

Ke manakah orientasi politik dan arah pemilih kaum milenial?

Bagaimanakah karakter generasi milenial dan bagaimana menumbuhkan gairah politik generasi yang sering diidentikkan dengan generasi digital ini?

Generasi yang sempat di-stigma sebagai apolitik, tidak berminat pada isu-isu politik, tidak percaya politisi dan lembaga politik – pemerintahan.

Namun kemudian anggapan ini terkoyak lantaran keterlibatan generasi milenial dalam aksi demonstrasi turun jalan, seolah mengikuti seniornya, mahasiswa, dalam memprotes RUU-KPK, RUU-KUHP, kebakaran hutan dan lahan, rusuh Papua, dll.

Benarkah isu-isu politik ini yang membawa generasi milenial turun jalan?

Atau adakah motivasi rasional, ideologis milenial ataupun motivasi sosial gerakan politik generasi milenial?

Apakah ini merupakan kebangkitan nasional generasi milenial?

Apapun jawabannya, anak milenial telah menunjukkan kepeduliannya terhadap isu politik, terlepas dari seperti apa tingkat pemahamannya terhadap isu politik secara spesifik.

Kebangkitan Gen Z ini merupakan sebuah surplus demokrasi yang harus kita rawat!

Generasi milenial, atau generasi Z, Gen Z, sebagaimana dikutip oleh NarasiTV dari Tirto.id, disebutkan memiliki ciri-ciri:

Berpikiran terbuka

Hemat

Menyukai kampanye yang kekinian

Menghendaki perubahan sosial

Sanggup berkompromi

Asyik dengan teknologi

Nah, ciri yang disebut terakhir yang sering disalah-artikan dengan disebutnya generasi Z, Gen Z sebagai “generasi gadget”, berdunia kotak persegi 8 inchi, dan tidak peduli orang lain.

Berdasarkan hasil survei dari Asosiasi Penyedia Layanan Internet (2017), sebagaimana dikutip Geotimes.co.id, penetrasi internet dihuni oleh generasi milenial lebih dari 75%. Artinya, mereka bertumbuhkembang bersama teknologi informasi. Tentu, gaya berpolitiknya akan terpengaruh oleh habitus berteknologi informasi itu.

Nah, apakah dengan ciri sedemikian akan membawa warna lain, yang baru, pada gaya partisipasi politik generasi milenial?

Dan bagaimana partai politik menangkap gejala dan perubahan sosial ini sehingga generasi milenial tertarik kepada gerakan partai politik dan lebih lanjut sudi bergabung dengan partai politik?

Baiklah, pembahasan ini kita mulai dari pembahasan atas 2 hal, yakni:

Apakah yang mendorong generasi milenial untuk ikut gerakan aksi politik sampai turun jalan?

Bagaimana aktivitas politik generasi milenial melalui media sosial?

Jawaban atas 2 pertanyaan ini saya harapkan akan dapat kita tracking untuk lebih memahami siapa dan bagaimana generasi milenial, Gen Z itu.

Karenanya, perangkat demokrasi dan demokratisasi, meliputi institusi dan aktor dan regulasi, dapat menjangkau dunia Gen Z ini: terutama KPU dan partai politik.

Misalnya dalam bentuk:

Agenda pendidikan politik yang kekinian.

Rumah Pintar Pemilu yang ramah Gen Z.

Agenda partai politik yang khas milenial, dsb.

Apa itu? Ya jangan tanya penulisnya ya.. Saya kan Gen X… wkwk… J

Partisipasi Politik Generasi Milenial

Pada bagian ini saya ingin membagikan partisipasi politik generasi milenial yang sering disebut juga dengan generasi Z, Gen Z, generasi teknologi informasi, generasi cyber-society, generasi digital.

Bagian ini terbagi dalam 2 bahasan:

Apakah yang mendorong generasi milenial untuk ikut gerakan aksi politik sampai turun jalan?

Bagaimana aktivitas politik generasi milenial melalui media sosial?

Kita bahas satu per satu ya…

Apakah yang mendorong generasi milenial untuk ikut gerakan aksi politik sampai turun jalan?

Aksi demontrasi turun jalan merupakan aksi serius, dilandasi oleh beberapa pertimbangan dan motivasi, yakni motivasi rasional, ideologis maupun motivasi sosial dari gerakan politik yang dilakukan oleh generasi milenial tersebut.

Saya contohkan aktivitas politik kaum milenial dalam memprotes revisi UU KPK dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) dengan berdemontrasi di gedung DPR RI. Aksi yang mengusung tagline #ReformasiDikorupsi itu berlangsung pada tanggal 24 September 2019.

Hasil survey yang dilakukan oleh Scholastika Gerintya dengan melibatkan 496 responden peserta aksi, yang kesemuanya adalah generasi milenial, didapat hasil sebagai berikut (Tirto.id):

Sumber: Tirto.id

Isu yang diusung oleh peserta aksi adalah:

Tuntutan revisi RUU KUHP (74,42%);

Revisi UU KPK (64,96 %);

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (43,48 %);

Isu kekerasan militer dan pelanggaran HAM di Papua (22,25%);

Tuntutan agar pemerintah segera menyelesaikan kebakaran hutan dan lahan di Riau (18,41%);

Menolak dwifungsi militer (2,05 %);

Menolak “dwifungsi” Polri (2,05 persen);

Kecewa dengan kinerja DPR (3,84 %).

Mayoritas responden yang berdemontrasi adalah untuk memperjuangkan hak dirinya sendiri dan orang lain (27,62 %); peduli dan mengaku terdorong hati nurani (20,2 %); mengaku ingin menyuarakan aspirasi sebab merasa tak didengar oleh para dewan (19,95 %).

Survey tersebut juga menemukan jawaban-jawaban responden peserta aksi, yang menunjukkan bahwa keterlibatan mereka dalam aksi demontrasi ini adalah terdorong oleh:

Ingin memperjuangkan hak.

Kepedulian dan dorongan hati nurani.

Ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah.

Ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah dan memperjuangkan hak.

“Sudah saatnya bergerak”.

Sumber: Tirto.id

Kutipan jawaban responden yang teragregasi dalam 5 kategori di atas menunjukkan kesadaran pemikiran generasi milenial terhadap isu-isu publik. Mereka ternyata bukanlah generasi apatis dan apolitik. Gen Z adalah generasi yang peduli urusan publik, urusan umat, urusan bangsa!

Ini adalah berita gembira. Inilah surplus demokrasi, yang memerlukan perawatan. Bukan hujatan, bukan pula kekawatiran.

Surplus demokrasi ini sangat perlu dirawat untuk menumbuhkembangkan modalitas politik-positif ke arah yang lebih produktif dan bermanfaat bagi perbaikan bangsa dan negara ini ke depan!

Adakah agenda yang kompatibel Gen Z yang dapat membuka jalan ke arah pembangunan politik ke depan? Kita perlu diskusikan suatu saat nanti ya gaess….

Btw…

Bagaimana aktivitas politik generasi milenial, Gen Z, yang terekam media sosial?

Tak dapat diingkari, era milenial, adalah era teknologi informasi, era cyber-sosial dan cyber-politik. Dan generasi milenial, generasi Z (Gen Z), adalah anak zaman cyber-cyber-an itu. Media sosial, sebagai anak kandung industri 4.0 di era milenial, menjadi sarana sangat penting dalam pergaulan sosial dan pergaulan politik abad milenial ini.

Aktivitas medsos tak ayal menjadi elemen penting dalam bahasan politik kontemporer.

Karena di dalamnya terdapat aktivitas politik yang melibatkan Gen Z.

Sesuai dengan fasilitas zaman dan karakter Gen Z, keberadaan medsos pun tak lepas dari dunia industri 4.0 dalam politik praktis. Medsos adalah wahana gerakan sosial kontemporer. Ia merupakan hulu ledak dengan peluru-peluru wacana publik yang diberondongkan oleh pengguna medsos untuk tujuan politik tertentu.

Nah…

Kita tengok bagaimana medsos merekam aktivitas politik Gen Z.

Ini tentang aktivitas kaum milenial Gen Z yang terekam medsos, juga mereka yang di luar Gen Z ngerumpiin Gen Z di medsos! Yuk kita ulik jejak digital Gen Z.

Untuk ini saya mengunakan analisis big data dan memilih satu medsos sebagai “kontainer” yang memuat percakapan, kalimat, ujaran, dan jejak digital publik secara real-time, yakni twitter.

Karena di twitter, platform micro-blogging, percakapan terjadi secara langsung antar pengguna twitter, real-time, cepat dan melibatkan banyak pengguna serta link platform medsos lain.

Dengan memantau medsos ber-icon burung emprit atawa twitter ini, kita layaknya memantau gerakan pikiran publik. Link-link URL website maupun platform medsos lain semisal Facebook, Instagram dan YouTube yang terhubung ke twitter juga tak lepas dari pemantauan ini.

Untuk ini, saya menggunakan kesaktian Drone Emprit lagi. Drone Emprit Academy (DEA) – Universitas Islam Indonesia menyediakan hasil analisis yang sangat bermanfaat.

Aktivitas percakapan publik di twitter teragregasi dalam hashtag (tanda pagar, tagar) yang memiliki makna “gerakan sosial dan politik”. Tagar-tagar ini menunjukkan kumpulan pikiran, sehingga jumlah tagar dan jumlah percakapan twitter dalam setiap tagar adalah sekumpulan opini publik, dan tak jarang juga merupakan sebuah “instruksi gerakan”.

Ada sejumlah tagar yang dikategorikan manifestasi aktivitas dan partisipasi politik kaum milenial, generasi Z, Gen Z. Di antaranya adalah:

#ReformasiDikorupsi

#PartisipasiPolitikMilenial

#MahasiswaBergerak

#MahasiswaBersatu

#STMMahasiswaBersatu

#MahasiswaPelajarAnarkis

#GejayanMemanggil

#HidupMahasiswa

#KetuaBEMUGM

#SurabayaMenggugat

#BebaskanAnandaBadudu

#BebaskanDandhy

Tagar-tagar tersebut berisi sejumlah tweets (cuitan, kicauan) para pengguna twitter, maupun mention, reply, dan retweet. Jumlah cuitan menunjukkan jumlah pengguna yang terlibat dalam isu yang direpresentasi oleh suatu tagar tertentu.

Tidak hanya jumlah cuitan, analisis medsos yang merupakan bagian dari analisis big data ini juga menganalisis sentimen publik pengguna twitter terkait isu tertentu yang direpresentasi oleh tagar tertentu.

Angka di sebelah kanan itu adalah jumlah tweets untuk masing-masing tagar.

Tweets terbanyak adalah untuk tagar #STMMahasiswaBersatu yakni 59.973 tweets.

Mengapa ya kira-kira?

Mengapa tagar ini paling populer?

Mengapa orang suka membuat tagar ini?

Adakah sinyal harapan?

Kita lihat trend tagar-tagar ini. Lihat polanya. Trend menurun pada semua tagar. Mereka memiliki pola yang sama. Sumber: Drone Emprit Academic (DEA), 2019.

Analisis medsos ini juga memperlihatkan sentimen publik yang muncul pada tagar-tagar tersebut. Sumber: Drone Emprit Academic (DEA), 2019.

Ada 3 sentimen yakni: positif, negatif, netral.

Sentimen positif maksudnya adalah bahwa tagar itu bermuatan tweets positif yang biasanya merupakan dukungan, setuju, sejalan yang diberikan oleh pengguna twitter.

Sentimen negatif adalah penolakan, atau ketidaksetujuan para pengguna twitter.

Sedangkan sentimen netral adalah tidak terdeteksi adanya kalimat dukungan maupun penolakan. Alias datar-datar saja.

Yuk kita lihat ya… Sumber: Drone Emprit Academic (DEA), 2019.

Sentimen publik dalam jejak digital Twitter pada 4 September – 4 Oktober 2019 untuk tagar #MahasiswaBersatu

Terakhir, adalah Tagar #PartisipasiPolitikMilenial

Di grafik ini dapat kita lihat dan baca, tagar mana yang paling populer atau paling banyak dihuni cuitan.

Sumber: Drone Emprit Academic (DEA), 2019.

#PartisipasiPolitikMilenial sebagai tagar tidak begitu populer, tidak seperti tagar #MahasiswaBersatu dll. Sumber: Drone Emprit Academic (DEA), 2019.

Namun kata kunci “partisipasi politik milenial” telah muncul sebagai sebuah penanda baru bagi gerakan dan partisipasi politik Gen Z yang  terepresentasikan oleh tagar-tagar sebagaimana dalam grafik. Sumber: Drone Emprit Academic (DEA), 2019.

Tagar #PartisipasiPolitikMilenial paling banyak diproduksi oleh akun @KPU_ID.

Kesimpulan

  1. Generasi milenial, Gen Z adalah generasi yang peduli politik.
  2. Partisipasi politik generasi milenial, Gen Z dimotivasi oleh perjuangan hak, tumbuhnya kepedulian kepada orang lain dan dorongan mengontrol institusi negara.
  3. Keterlibatan Gen Z pada aktivitas politik jalanan sebuah surplus demokrasi.
  4. Trend demokrasi-positif ini membuka peluang ke arah partisipasi politik yang lebih konkret misalnya partisipasi dalam pemilu dan perbaikan sistem pemilu.
  5. Media sosial (medsos) telah menjadi arena dan habitus baru yang mempengaruhi diskursus personal dan publik serta praktik politik kontemporer.
  6. Partisipasi politik Gen Z adalah corak politik berplatform digital yang sejalan dengan revolusi industri 4.0.

Rekomendasi

  1. Pendidikan politik yang kompatibel dengan spec Gen Z untuk menindaklanjuti dan merawat literasi politik Gen Z.
  2. Institusi sosial dan politik yang kompatibel dengan Gen Z untuk mewadahi aspirasi politik Gen Z.
  3. Agenda politik yang kompatibel dan ramah Gen Z, misalnya kampanye politik atau kampanye pemilu yang “Gen Z Banget”.
  4. Partai politik yang kompatibel dengan spec Gen Z.
  5. Penguatan diskursus publik tentang makna politik-positif secara kontekstual dan updated untuk pembangunan politik yang kompatibel dengan perubahan sosial dan situasi sosial-politik kontemporer.
  6. Sebagai instrumen penguatan diskursus publik, sangat perlu pemahaman tentang politik digital dalam koridor revolusi digital 4.0.

Referensi

Data dirujuk pada hasil analisis media sosial, yang difasilitasi oleh Drone Emprit Academic Open Data, Portal Data Analisis Media Sosial. https://academic.droneemprit.id/

Wawan E. Kuswandoro

Pendiri Yayasan Wahana, Dosen FISIP Universitas Brawijaya, Peminat Masalah Politik Sehari-hari (Everyday’s Politics) & Politik Digital

___

Artikel yang dilengkapi dengan ilustrasi grafis, terdapat di sini:

Peran Politik Milenial

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

As you found this post useful...

Follow us on social media!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *